PERCA

Kekuatan "1917" yang Mengancam Eksistensi "Joker"

Budaya Rabu, 22 April 2020 - 00:57 WIB | 437 klik
Kekuatan "1917" yang Mengancam Eksistensi "Joker"

Salah satu adegan dalam film 1917. (UNIVERSAL)

Di beberapa penghargaan, film 1917 berhasil mengalahkan Joker sebagai Film Terbaik. Ajang Oscar 2020 pada 9 Februari nanti menjadi puncak persaingan dua film tersebut.

APA arti seseorang yang mempertaruhkan hidupnya untuk menjadi pengirim pesan dengan harapan bisa menyelamatkan 1.600 tentara dari kemungkinan pembantaian massal di garis depan sebuah perang?

Baca Juga : Impas

Itulah inti yang ingin disampaikan Sam  Mendes dalam film yang kini menjadi perbincangan di seluruh dunia, 1917. Film dengan setting Perang Dunia I, di bagian utara Prancis. Ketika itu Jerman berhasil memukul mundur Inggris dan sekutunya. Namun pada 6 April 1917, secara mengejutkan tentara Jerman mundur dari wilayah yang didudukinya. Aksi ini membuat Inggris percaya diri melancarkan serangan balasan.

Dengan teknik pengambilan gambar satu kamera (one shoot), kita "dipaksa" untuk mengikuti perjalanan sehari semalam Kopral William Schofield (George MacKay), yang harus menyampaikan surat kepada Kolonel MacKenzie (Benedict Cumberbatch) dari Jendral Erinmore (Colin Firth). Erinmore  punya analisis lain. Dia yakin, Jerman sengaja mundur sekitar 14 kilometer dari area yang sebelumnya dikuasainya dengan sebuah jebakan. Dalam analisa Erinmore, jika pasukan garda terdepan terus mengejar, mereka akan disergap pasukan Jerman itu.

Tugas menyampaikan pesan itu sebenarnya diberikan kepada Kopral Tom Blake (Charles Chapman). Salah satu alasannya, karena kakaknya, Joseph Blake (Richard Madden) ada di barisan pasukan terdepan tersebut. Sayangnya, di tengah perjalanan, Blake tewas. Dia ditusuk oleh pilot Jerman (Robert Maaser) yang pesawatnya jatuh ditembak Angkatan Udara Inggris. Padahal mereka berdua hendak menolongnya.

Schofield yang sebenarnya hanya menjadi pendamping Blake dalam misi ini, akhirnya mengambil peran itu. Masalahnya, perjalanan dari markas Erinmore ke pos MacKenzie yang memimpin Batalyon Kedua Resimen Devon bukan perkara mudah.

Selain dikejar waktu yang sangat mepet, Schofield harus berhadapan dengan medan yang sulit untuk menembus blokade sisa pasukan Jerman yang terus menembakinya di beberapa kesempatan. Puncaknya di sebuah kota yang sudah terbakar, Schofield dikejar dengan berondongan peluru oleh tentara Hitler. Di tengah kondisinya yang lelah dan luka, akhirnya dia terjun ke sungai deras yang dipenuhi mayat.

Namun, perjuangan itulah yang kemudian mempertemukannya dengan pasukan Inggris garda depan tersebut. Kesan dramatis muncul saat dia akan bertemu MacKenzie, justru dia dihalangi para tentara lainnya. Ketika ketemu, awalnya MacKenzie tak percaya dengan pesan itu. Tepat ketika tentara Jerman memborbardir mereka di parit perlindungan, dan 30 detik lagi seluruh tentara akan menyerbu, MacKenzie mengambil sebuah keputusan.

Dibanding Joker, sebenarnya karakter dan konflik yang dibangun sebagai sebuah cerita 1917 masih kalah. Banyak orang yang memilih kekuatan lebih dimiliki oleh Joker. Film karya Todd Phillips ini dianggap unggul di banyak sisi dibanding 1917.

Baca Juga : Dari Balik Terali

Namun kenyataannya di "lapangan" berberda. 1917 berhasil meraih 2 piala Golden Globe untuk Penyutradaraan dan Film Terbaik Drama.  1917 lantas diganjar 9 nominasi BAFTA dan 10 nominasi Oscar. Belum lagi, Ahad (19/1/2020) lalu, 1917 memenangkan Producers Guild of America Awards 2020 atau PGA Awards 2020 kategori Film Terbaik.

Seperti ditulis IMDB.com, selama 30 tahun terakhir, ada 22 film terbaik PGA Awards menjadi film terbaik Oscar. Artinya, kans 1917 menjadi Film Terbaik Oscar tahun ini menguat. Pertanyaan, sebagus apa 1917?

Kekuatan utama 1917 terletak pada hal teknis. Sinematografi yang dibangun membuat kita berdebar-debar, seolah selama hampir 2 jam, film ini dibuat dengan teknik one take alias satu shot. Kamera Roger Deakins membingkai Schofield  dan Tom Blake sejak terlelap di perkebunan.

Lalu kamera itu tak berhenti bergerak membuntuti keduanya yang berjalan dari perkebunan, markas Jenderal, parit, daratan berisi bangkai manusia serta binatang, dan lain-lain. Kita tahu, Roger mengambil gambar dengan teknik cut to cut. Namun kita tak tahu kapan cut to cut berlangsung, saking mulusnya pergerakan kamera Roger sejak awal. Juga yang pasti rapinya penyuntingan.

Kamera Roger membuntuti Tom dan William dari belakang, membalap keduanya dari samping, lalu memimpin mereka ke pemberhentian demi pemberhentian. Begitu seterusnya. Di salah satu adegan saat Schofield  jatuh dari air terjun dan hanyut terbawa sungai, kamera terus membuntuti tokoh ini hingga kembali ke darat. Kata menakjubkan saja tidak cukup untuk melukiskan kinerja Roger di 1917.

Menilik rekam jejak Roger di jagat sinema, kita sebenarnya tak perlu kaget jika ia mampu bekerja secanggih itu. Sineas kelahiran Inggris, 24 Mei 1949, ini sudah 15 kali dinominasikan di Oscar. Kali pertama ia diganjar nominasi tahun 1995 lewat The Shawshank Redemption hingga akhirnya menang di Blade Runner 2049 dua tahun silam.

Tanpa bermaksud mengabaikan kerja keras nomine lain, kategori Sinematografi Terbaik tahun ini tak ada kompetisi karena Roger berpeluang sangat besar meraih Piala Oscar kedua.

Sayangnya, 1917 tak mengeksplorasi kekuatan akting para pemain. George MacKay yang bermain sangat apik sebagai orang yang selama sehari semalam harus berjuang dari berbagai maut yang mengincarnya, seperti tertelan oleh hal-hal teknis tadi. Bagian ini nampaknya yang diabaikan banyak kritikus. Padahal, sebagai pusat cerita, akting MacKay harusnya dinilai juga. Nyaris tak ada celah di film ini yang tak ada gambar karakter yang dimainkan MacKay tersebut.

Sam Mendes meracik naskah yang bertumpu pada perjalanan dari satu titik ke titik. Fokusnya pada proses penyampaian perintah yang melewati banyak rintangan. Maka, dibuatlah perjalanan dalam berbagai medan.

Di sinilah, penata artistik bekerja keras membangun dunia di era 1917 dengan polesan efek visual yang membuat kita percaya, inilah arena perang paling mematikan dalam sejarah dunia. Sekali lagi, ini soal kinerja orang-orang di balik layar tanpa bermaksud mengecilkan para pemain yang berlaga di depan.

1917 dibuat sebagai penghormatan untuk kakek sang sutradara, yakni Alfred H Mendes yang terlibat Perang Dunia I. Cerita Alfred dikembangkan menjadi naskah yang memungkinkan penonton menjadi bagian dalam perjalanan mengirim pesan di belantara perang.

Diperlukan imajinasi sekaligus referensi dalam membangun set perang dan menokohkan para pelakunya. Unsur ledak-ledakan, baku hantam, dan darah memang tak sebanyak yang diharapkan penonton awam.

Yang hendak dipotret Sam Mendes, salah satu dari sekian banyak cerita perang. Plus dampak yang dirasakan para pelaku perang. Dengan hasil akhir senyata dan serapi ini, tak berlebihan jika 1917 disebut salah satu film perang terbaik dalam sejarah sinema dunia. Setidaknya beberapa penghargaan yang didapat sudah menjelaskan itu.

Jika pernah nonton Dunkirk (2017) karya Christopher Nolan, atau Saving Private Ryan (2009) yang disutradarai Steven Spielberg, bisa dibandingkan sendiri. Ketiga film ini memiliki kekuatan dan kelebihan dengan karakter masing-masing dengan latar Perang Dunia I dan II.

Dunkirk bercerita tentang ribuan tentara Inggris yang putus asa setelah terdesak oleh tentara Jerman hingga ke pantai Dungkerque menjelang akhir Perang Dunia II. Saat menunggu evakuasi untuk menyeberang ke daratan Inggris, mereka dibombardir Angkatan Udara Jerman. Banyak karakter yang bermain di sini dengan problem masing-masing.

Sedang  Saving Private Ryan bercerita tentang upaya penyelamatan secara heroik sebuah peleton yang dipimpin Kapten John H Miller (Tom Hank) yang harus menyelamatkan Ryan (Matt Damon) di Normandia (Prancis) agar tak mati seperti saudara-saudara lainnya dalam Perang Dunia II.

Penyelenggara Academy Awards 2020 sudah mengumumkan daftar lengkap nominator Film Terbaik dan kategori lainnya untuk mendapatkan Piala Oscar, penghargaan tertinggi sineas dunia. Di kategori Film Terbaik, ada 9 film yang dijagokan. Mereka adalah Ford v Ferrari, The Irishman, Jojo Rabbit, Joker, Little Women, Marriage Story, 1917, Once Upon a Time in Hollywood, dan Parasite.

Di ajang inilah puncak pembuktian apakah 1917 benar-benar menjelaskan eksistensinya sebagai film terbaik seperti di beberapa penghargaan lainnya. Juga akan menjadi pembuktian apakah Joker bisa menarik perhatian  para juri untuk mengalahkan 1917. Juga, jangan-jangan justru Parasite yang menjadi kuda hitam bisa mencuat. Masuknya Parasite dalam jajaran nomine Film Terbaik sudah banyak diprediksi. Meski tak banyak yang berani menjagokan akan menang, tetapi masuknya film asal Korea Selatan ini ke daftar nomine, sudah menjadi sebuah kemenangan tersendiri.***

Hary B Kori'un
Riau Pos, 26 Januari 2020




Berita Terbaru

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Redaksi

Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.
Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.