Saya Hanya Ingin Cerita Ini Selesai
(OLGA SUROVOVA/X)
ITULAH yang berulang-ulang dia ucapkan saat sedang tidur akhir-akhir ini. Dengan suara yang nyaris seperti tangis kalimat itu terdengar mengibakan serupa suara seorang kekasih saat mengucapkan permintaan terakhirnya sebelum berpisah.
Kenapa dari mulutnya sering keluar kalimat demikian saat tertidur akhir-akhir ini, saya tidak tahu. Apakah ia bermimpi bertemu dengan seseorang, barangkali mendiang ibunya yang meninggal setahun lalu atau mantan kekasihnya yang meninggalkan dia setengah tahun lalu dan dia bercerita (entah apa yang diceritakannya), namun cerita itu putus di tengah jalan?
Atau, apakah yang bersangkutan adalah seorang pengarang yang ceritanya mangkrak selama bertahun-tahun dan cerita yang tak selesai itu selalu menguntitnya ke mana pun dia pergi, menakut-nakuti dia kala sendiri dan menjadi momok yang menakutkan di dalam mimpi, saya juga tidak tahu.
Namun itu, setelah mendengar suaranya saat mengucapkan kalimat itu dan melihat raut wajahnya, saya merasa iba. Lebih dari itu, saya juga berusaha menelusuri apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Saya kira ada sesuatu yang membuatnya mengatakan kalimat itu berulang-ulang dalam tidurnya dengan suara yang nyaris seperti tangis.
Barangkali bermula dari tiga bulan lalu, ya, tiga bulan lalu kami baru bertemu. Pertemuan kami bukanlah sebuah adegan meet cute seperti di awal film-film roman. Pertemuan kami adalah pertemuan antara Mas-Mas dan Mbak-Mbak kabupaten biasa yang sama-sama kuliah di sebuah perguruan tinggi yang juga biasa. Bagaimana kami pada mulanya bertemu saya kira tidak begitu penting sebab semua terasa biasa saja dan barangkali pertemuan pertama semacam itu Anda sekalian juga mengalaminya. Yang jelas semakin hari kami semakin sering bertemu dan kami semakin akrab.
Apakah saya mencintai dia atau apakah dia mencintai saya, saya tidak tahu. Namun saat berada di dekat dia saya merasa bahagia sekalipun hanya berbincang, mendengar dia berbicara, menyimak cerita dia, dan sesekali tertawa bersama gegara jokes garing yang dia lontarkan di sela-sela cerita.
Untuk seseorang dengan lingkup pergaulan yang kecil --demikianlah kesimpulan saya dari berbagai ceritanya--, saya mengakui dia begitu pandai menggenggam jiwa saya dan melemparkannya ke dalam semesta cerita yang sedang dia bangun. Setelah mendengar cerita-cerita dia kemudian saya tahu jika dia tidak pernah tahu bagaimana wujud dan bentuk Ayahnya; setahun lalu ibunya meninggal; setengah tahun lalu dia ditinggal kekasihnya dengan tuduhan serong, pun bejibun hal penting lain menyangkut dirinya sampai hal-hal yang sama-sekali tidak penting menyangkut dirinya.
Setelah kami cukup dekat, dalam kesehariannya, saya jarang melihat dia berinteraksi dengan orang lain—kecuali untuk hal yang benar-benar penting atau sekadar basa-basi klise biasa—selain saya. Dugaan saya hanya kepada sayalah dia berbincang cukup lama dan bercerita panjang lebar tanpa takut aibnya terbongkar. Kenapa demikian, saya tidak tahu. Suatu kali saya pernah bertanya kepada dia mengapa dan dia hanya menjawab: “karena kamu tidak banyak bicara.” Bagi saya jawaban itu aneh sehingga saya terus mencecarnya sampai akhirnya dia mengatakan:
“Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata...”¹
“Ah, kamu mengutip Seno!” Saya segera memotong kalimat yang saya tahu dia kutip dari salah satu cerpen Seno Gumira Ajidarma dan saat itu dia hanya tersenyum manis, manis sekali.
***
DUA minggu lalu dalam perjalanan pulang setelah mengantarkan dia kecelakaan lalu lintas menimpa saya. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak dari arah berlawanan. Saya tidak tahu mengapa bisa demikian sebab begitu benturan itu terjadi saya tidak melihat apa-apa lagi kecuali gelap, hanya gelap.
Kejadian itu terasa begitu cepat. Kegelapan pekat yang saya rasakan saat benturan itu terjadi sebentar kemudian malih seperti semula di mana saya bisa melihat segala. Di sekeliling saya, di sekitar tempat kejadian, sudah ramai orang. Mereka mengelilingi jasad saya yang terbaring bermandi darah. Saya hanya bisa melihat semua itu dari jauh tanpa sesuatu pun yang bisa lagi saya sentuh.
Karena tak ada lagi tempat yang saya tuju, setelah kecelakaan itu saya langsung menuju ke tempat dia tinggal. Berita kecelakaan itu sampai kepada dia esok paginya dan saat dia mendengar berita itu dia langsung menangis. Cukup lama dia menangis. Melihat dia menangis sedemikian rupa saya tidak tega. Akhirnya, hari itu saya pergi membiarkan dia dan kembali mengunjunginya pada malam hari dan ternyata dia masih menangis.
Apakah dia menangis selama itu karena kehilangan saya atau karena hal lain, ah, saya tidak tahu. Yang jelas malam itu tangisnya baru berhenti setelah (barangkali) dia merasa lelah dan lantas ketiduran dan, pada malam itulah untuk pertama kalinya saya mendengar dia mengigau dalam tidurnya—sebuah igauan yang sama yang juga sering terdengar berhari-hari berikutnya.
Malam itu saya terus berjaga saat dia tertidur. Saat subuh hari baru saya pergi sebab saya iba jika melihat dia bangun dan barangkali, menangis lagi. Hari-hari berikutnya selalu seperti itu di mana saya hanya mendatangi dia saat malam hari sampai saya merasa aneh sebab igauan dia berkali-kali, berhari-hari, mengulang kalimat yang sama: “saya hanya ingin cerita ini selesai.” Dia mengucapkan itu dengan suara yang nyaris seperti tangis.
***
SUDAH tiga hari saya berusaha menelusuri apa yang terjadi dengan dia, mengikuti ke mana pun dia pergi dan mencuri dengar apa yang dia bicarakan dengan orang yang dia temui. Kesimpulan saya kehidupan dia setelah kecelakaan menimpa saya tak ubahnya kehidupan manusia pada umumnya. Begini:
Hari pertama saya mengikuti dia, hari kedua, dan hari ketiga, semua nyaris dia habiskan di luar. Pada hari-hari itu dia berkunjung ke tempat teman yang satu kemudian pindah ke tempat teman lain. Nongkrong di suatu tempat bersama seorang teman kemudian pindah nongkrong di tempat lain bersama teman yang lain pula.
Apa yang dia cari dari itu, saya tidak tahu (padahal seperti sudah saya katakan sebelumnya jika dia jarang berinteraksi dengan orang lain, bukan?). Yang pasti, selama bertemu dengan orang-orang itu dia terlihat bodoh sekali dalam bercerita. Dia terlihat kesulitan menggenggam jiwa lawan bicaranya apalagi melemparkannya ke dalam semesta cerita yang akan dia bangun. Dalam pertemuan-pertemuan itu seandainya ada percakapan, dia tampak lebih banyak diam dan mendengarkan. Tentu ini berbeda dibanding pertemuan-pertemuan dia dengan saya.
Sebetulnya dia sudah berusaha untuk bercerita kepada setiap orang yang dia temui; dia berusaha menggenggam jiwa mereka dan lantas melemparkan mereka ke dalam semesta cerita yang akan dia bangun. Namun semua itu tidak pernah berhasil sebab jangankan bercerita, sebuah percakapan pun bagi dia terasa begitu mahal: setiap orang yang dia temui tampak lebih menikmati bising dalam gawainya masing-masing.
Memang dalam beberapa pertemuan-pertemuan itu sebenarnya ada beberapa momen di mana dia nyaris bercerita. Setiap situasi dan kondisi dia rasa memungkinkan maka mulailah dia dengan, “kamu tahu orang itu, kan?” lawan bicaranya akan mengangguk, tentu saja semua orang yang di temuinya tahu jika yang dia maksud dengan “orang itu” adalah saya. Lantas dia melanjutkan, “dia meninggal karena kecelakaan beberapa hari lalu...”
Kenapa saya mengatakan dia nyaris bercerita sebab beginilah selalu respons lawan bicaranya, “oh, dia meninggal, innalillahi wainnailaihi rajiun.” Kemudian lawan bicaranya akan meneruskan, “kasihan sekali, kamu pasti bersedih, turut berduka cita, ya.” Begitulah, atau semacam itulah respons dari lawan bicaranya sebelum kembali lagi ke “surga” yang ada dalam genggamannya.
Ada lawan bicaranya yang lain yang lain lagi sikapnya. Yaitu setelah dia memulai cerita itu dengan, “kamu tahu orang itu? Dia meninggal karena kecelakaan beberapa hari lalu.” maka seperti yang sudah-sudah lawan bicaranya yang lain itu akan mengatakan dirinya turut berduka cita. Di mana letak perbedaannya dengan lawan bicaranya yang pertama? Nah, di sinilah, karena lawan bicaranya yang lain itu tahu jika dia bersedih karena peristiwa itu, maka lawan bicaranya yang lain itu akan mengatakan, tentu dengan maksud menghibur, “ah, kamu masih mending!” lantas berceritalah lawan bicaranya yang lain itu sebuah cerita yang bagi dirinya terasa jauh lebih tragis dari sekadar ditinggal mati orang terdekat.
Dia hanya diam dan mendengarkan lawan bicaranya bercerita. Dari raut mukanya dia tampak kecewa, bahkan, jika kita mengamati wajahnya secara lebih saksama tergambar semacam kemurungan yang tak berhasil ia sembunyikan.
Apakah dia merasa terhibur dengan pertemuan-pertemuan itu atau muak karenanya, saya tidak tahu! Tetapi yang terjadi kemudian adalah bahwa dia tak pernah lagi keluar dan di hari-hari berikutnya dia lebih memilih mengurung dirinya di kamar.
***
SAMPAI saat ini, setelah dua Minggu semenjak kecelakaan menimpa saya, setelah lebih dari tiga hari saya mengikuti dia, ketika saya mengunjunginya di malam hari dalam tidurnya dia masih mengigau dengan mengucapkan kalimat yang sama berulang-ulang. Bahkan dalam dua malam terakhir ini dia menambahkan: “Saya sudah berusaha semampu saya untuk bercerita tapi cerita belum juga selesai, bahkan sebelum saya mulai.”² dia mengulang-ulang kalimat itu dengan suara yang tak lagi nyaris seperti tangis melainkan persis seperti tangis.***
Al Ikhsan, 2025
Catatan:
- Cerpen “Sepotong Senja Untuk Pacarku” karya Seno Gumira Ajidarma
- Terinspirasi oleh salah satu dialog di buku Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar karya Sjuman Djaya
Zulhan Nurhathif lahir di Pemalang, 2002. Dia Pernah kuliah di Jurusan Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora, Universitas KH. Saifudin Zuhri Purwokerto (tidak selesai). Laki-laki pencinta kretek ini masih menetap di Purwokerto.
Editor: Anton WP
Redaksi
Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.


















