CERPEN MELISA NOFEM

Mar

Cerpen Minggu, 14 Desember 2025 - 13:56 WIB | 161 klik
Mar

(ISTIMEWA)

 “APA warna kesukaanmu hari ini, Mar?”

“Sebelum kau jawab, biar aku coba dulu.”

“Biru.”

Mar diam saja, kami diam beberapa saat. Saling memandang, melemparkan pandangan ke atas, melihat langit, dan kembali memandang masing-masing kami. Semuanya masih sama, barangkali. Aku membersihkan dedaunan segi empat di sekitar. Angin bertiup di atas kepalaku dan membuat merinding. Di sini berdua, tetapi ramai sekali rasanya.

“Maaf aku tak bisa bawakan apa-apa, Mar.”

“Aku tak tahu.”

“Bukan tidak ingin mencari tahu.”

“Sungguh.”

“Tapi aku siapkan untukmu hadiah, dari kepala, dari dada, aku  siapkan sebuah cerita. Dengarkan baik-baik."

“Ada seekor anak gajah yang manis. Belum genap satu tahun. Tubuhnya tidak sebesar anak gajah seharusnya.”

“Yaa memang gajah sudah besar bahkan saat masih kecil.”

Maksudku, untuk ukuran seekor anak gajah dia seharusnya bisa lebih besar.”

“Tidak ada dunia yang ideal?”

“Baiklah, baiklah, seekor anak gajah yang manis saja.”

“Oh ya, kau mau gajahnya warna apa?”

“Biru? Seekor anak gajah biru ingin terbang dan menjadi awan dan meledak di angkasa."

“Bagaimana?”

“Aku harap kau jujur saja jika tidak suka ceritanya, Mar.”

“Kenapa diam saja?”

Langit sudah mulai gelap. Hujan tidak jadi turun sejak pagi. Suasana menjadi sedikit canggung. Mar tetap tak menjawab sepatah kata pun. Aku salah tingkah. Apa dia tak suka aku hadiahi cerita? Namun, Mar suka cerita dan bercerita dan melihat aku mendengarkan cerita dan memintaku bercerita walau tak pernah sekalipun aku menjawab iya. Baiklah, sekali lagi aku coba. Mungkin dengan lebih melibatkannya.

“Sebenarnya jika kau mau, aku bisa ceritakan gajah dengan warna lain, Mar.”

“Jika kau tak mau ia biru, tapi..”

“Tapi kau selalu selalu ingin berubah-ubah. Aku tidak ingin. Gajah dalam pikiranku adalah biru. Bi-ru."

“Hm, Mar, apakah kau kedinginan?”

“Seekor gajah biru dan kupu-kupu abu-abu.”

“Mereka hidup bersama di sebuah hutan yang asri karena jauh dari jangkauan manusia.”
           

***

ORANG-orang berlalu-lalang. Sore menjelang malam dan matahari hampir benar-benar tenggelam. Bertemu dengan Mar bagai oase yang melegakan kerontang tenggorokan setelah badai kemarau berkepanjangan. Wanginya yang seperti bunga melati merekah, mata indah melihat jauh sayu ke depan, pakaian putih menyelimuti tubuhnya seperti merpati liar dengan bulunya berkilau terpelihara dengan baik oleh alam. Ah, Mar, barangkali jika aku buta, aku tetap tak bisa menafikan keindahanmu.

Di kejauhan tampak beberapa warga bercakap-cakap, entah apa yang dibicarakan sambil sesekali menunjuk-nunjuk ke arah kami. Sekali-kali bolehlah. Namun, apa boleh aku merasa tidak nyaman jika mereka melakukan itu setiap saat sejak pertemuan pertamaku dengan Mar! Manusia brengsek! Apa tidak pernah jatuh cinta?

“Mar, lihat orang-orang itu.”

“Hakim tapi bukan di pengadilan, merasa hanya mereka yang punya mata!”

“Ah, yaaa. Maaf Mar, barangkali mereka hanya iri.”

“Sehari-hari menggali kubur dan bisa mendapatkan wanita secantik kau, tidak begitu seharusnya dunia bekerja, bukan? Mereka berpikir begitu, Mar? Bisakah kau menyelam ke dalam laut keruh pikiran mereka?”

“Mereka iri, Mar.”

“Iri sekali.”

“Atau, tidak pantaskah aku untukmu, Mar?”

“Kau rasa begitu?”

“Sedih sekali, bahkan sebelum aku mendengar jawabanmu. Kau tak usah jawab kali ini.”

Angin bertiup makin kencang memainkan anak rambutku dan rasa-rasanya udara semakin dingin.

“Rasanya bingung sekali menjalani hidup ini, Mar.”

“Kau tau? Bahkan, bahkan untuk menjadi aku.”

“Aku akan kemana ya, Mar?”

“Kalau bisa menjelma apa saja, kau mau jadi apa, Mar?”

“Menjadi kekasihku?”

“Lagi?”

“Kalau aku, kau sudah pasti tahu jawabannya, Mar.”

“Tapi Mar, kadang aku ingin tidak dilahirkan saja. Asal kau tahu.”

“Tapi di dunia ada kau, Mar.

Di dunia ada kau, di mana lagi aku cari yang seperti kau.”

Sesekali aku mendengar orang-orang tertawa sinis dan masih menunjuk-nunjuk juga. Beberapa mungkin semakin geram dan mengatakan bahwa aku gila. Aku tidak gila dan kalau pun benar gila, lalu kenapa? Di dunia yang semakin di ujung tanduk ini, kurasa tidak perlu mencari siapa yang gila karena semua sama saja!

“Mar, anak gajah biru tadi, ceritanya belum selesai.”

“Seekor anak gajah biru ingin terbang dan menjadi awan dan meledak di angkasa. Jauh sebelum ingin ke angkasa, ia adalah anak gajah yang bernasib buruk.”

“Aku tak tau, berwarna biru, apakah itu baik atau buruk menurutmu?”

“Hidup di dunia rasa-rasanya menuntut kita jadi rata-rata.”

“Benar begitu, Mar?”

“Andai gajah kecil biru itu bisa memilih di dunia mana ia ingin tinggal.”

“Tidak seperti rata-rata membuatnya merasa berbeda.”

“Seringkali ia berusaha untuk biasa saja.”

“Di malam itu, sunyi, langit tidak seperti biasanya, ranting pohon merunduk ke arah yang sama, gajah kecil biru itu mulai berjalan ke arah ia merasa benar. Perjalanannya baru saja dimulai, Mar.”

“Ia hanya melihat ke depan, berjalan mengikuti arah yang tak diketahuinya.”

“Kau tau, Mar? Bahkan saat membuat cerita ini pun aku tak bisa menutupi kecemasanku pada anak gajah biru malang itu.”

“Aku berbohong kalau aku bilang tidak cemas.”

“Jika gajah biru itu adalah aku, akankah kau menunjukkan jalan untukku, Mar?”

Mereka makin kesal sepertinya. Dari yang mengatai aku gila dan berlalu begitu saja. Kini makin berani untuk berteriak dan mengatakan bahwa aku “penggali kubur kurang akal”, tapi aku hanya diam saja dan memandang ke arah sana yang tentu saja membuat mereka semakin kesal dan melempariku dengan batu. Mereka semakin mendesak, memintaku untuk pergi dari sini, tentu saja tak akan aku lakukan itu. Bagaimana dengan Mar, dengan pertemuan yang baru sebentar, dan cerita yang masih hambar.

“Gajah yang malang.”

“Syukurlah ia tidak jadi manusia karena akan lebih malang lagi!”

“Bukankah begitu, Mar?”

“Gajah kupu-kupu terbang rendah di depanku. Aku mengejarmu. Jangan lari dariku. Gajah kupu-kupu menari-nari di mataku. Kuingin menyentuhmu, jangan lari dariku.”

“Kau tau lagu itu, Mar?”

“Aku mengejarmu, tapi kamu hindari aku.”

“Di luar sana angin sangat kencang, wushhhhhh, hati-hatilah Sayang. Hati-hatilah kau terbang.”

“Terbang dan hinggaplah di mana pun kau mau.”

Rasa-rasanya aku bisa mendengar Mar tertawa. Entah orang-orang yang lewat mungkin juga. Masih harus berlatih lagi dalam bernyanyi sepertinya, ya, tapi kan tidak harus bagus juga. Maksudku, aku ingin bernyanyi saja untuk Mar bukan ingin lebih.

“Mar, anak gajah biru itu masih terus berjalan bahkan sampai jauh dari hutan asalnya. Sendirian.”

“Hingga suatu saat kakinya menginjak jerat yang membuatnya menjerit ketakutan hingga terdengar oleh pemburu yang kesenangan mendapat hasil buruan setelah menunggu sekian, sekian, dan sekian lama.”

“Sebenarnya aku tidak ingin memilih akhir cerita yang menyedihkan seperti ini. Gajah biru malang itu akhirnya menjadi aset sirkus yang dipertontonkan, hingga akhir hayatnya.”

“Apakah itu menyedihkan baginya, Mar?”

“Penderitaan mana lagi?”

“Bukankah pada akhirnya ia hanya keluar dari satu penjara untuk akhirnya memasuki penjara berikutnya?”

“Atau… atau bagaimana jika berakhir menjadi gajah sirkus adalah hal yang selama ini ia impikan?”

“Barangkali, semua akan kembali ke bentuk awalnya, Mar.”

“Kita tidak bisa menolak rasa sakit yang bahkan sudah tertulis bahkan sebelum kita lahir di dunia.”

“Lalu gajah itu menjadi gajah sirkus yang setiap hari punggungnya dinaiki beberapa orang hingga tulangnya berubah bentuk karena menahan beban yang terlalu berat selama bertahun-tahun.”

“Ketika sudah tidak begitu kuat lagi, ia diistirahatkan dan dibiarkan menjadi tontonan saja.”

“Gajah yang sudah tua dan menyedihkan. Sendirian. Tinggal menunggu kapan dikuburkan.”

“Bukankah memang begitu seharusnya, Mar? Bahwa terkadang diri ini bahkan tidak diizinkan untuk menikmati kehidupan itu sendiri?”

“Jika diberi pilihan, memilih hidup atau tidak dilahirkan sama sekali, seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tetap pilih yang kedua, Mar! Gajah biru itu pasti sama!”

“Kau juga?”

“Oh, Mar. Jangan naif. Berpikir positif juga ada batasnya. Tak perlu semua kejadian, apalagi buruk, kau cari-cari pembenaran untuk mengambil hikmah baiknya.”

“Bisa saja tidak ada. Beberapa makhluk, aku, gajah kecil biru, hutan yang dibabat habis, ular yang dibunuh hanya untuk diambil kulitnya, anak bayi yang dikubur hidup-hidup, kami dilahirkan memang untuk menghabiskan stok penderitaan.”

“Maaf kalau aku terlalu emosional, Mar.”

“Ini hanya cerita binatang biasa.”

Aku menghirup udara dalam-dalam, mengisi paru-paru hingga penuh untuk kemudian menghembuskannya, lagi, secara perlahan. Aku ulangi beberapa kali agar dapat sedikit menenangkan. Orang-orang yang tadi melihat kami di sana, aku biarkan saja. Toh, mereka akan kecapaian sendiri juga.

“Mar, beruntung sekali orang-orang yang hidupnya tidak lama.”

“Bukankah begitu, Mar?”

“Gajah biru itu tidak beruntung.”

“Hidupnya terlalu lama!”

“Mar…”

“Apakah, apakah hidup bukan hanya tentang diri sendiri, Mar?”

“Maksudku, apakah mungkin gajah itu justru senang saat menjadi gajah sirkus yang bermanfaat, menghibur banyak orang, memberikan rezeki untuk orang yang memeliharanya?”

“Lalu bagaimana dengan kebahagiaannya sendiri, Mar?”

“Apakah sudah cukup baginya untuk bahagia dengan cara melihat orang berbahagia atas apa yang telah ia lakukan, berikan, dan korbankan?”

“Kalau kau, Mar?”

“Apa saja yang telah kau korbankan?”

Orang-orang itu semakin masif. Kini mereka memintaku untuk segera pergi dari sini. Tidak bisa lagi ditunda-tunda. Padahal ini waktuku. Aku di sini, duduk bersama Mar, tidak sama sekali memakai waktu mereka. Beberapa mereka menghampiri dan memintaku segera meninggalkan Mar. Namun, Mar sendiri. Siapa yang akan menemani Mar, kalau bukan aku. Mereka tidak akan mau!

“Semua akan kembali ke bentuk asalnya. Semua akan kembali ke bentuk asalnya. Semua akan kembali ke bentuk asalnya.”

“Mar, aku pikir, saat mati nanti, sebab aku suka laut, aku ingin abu dari jasadku dilarung ke lautan. Agar serpihan terkecilku bisa pergi jauh entah ke mana.”

“Aku juga tanyakan itu ke beberapa temanku, Mar.”

“Kau tau, dari mereka ada yang ingin jasadnya dibiarkan saja di tempat terbuka yang jauhhhh, agar burung pemakan bangkai bisa menyantapnya segera.”

“Temanku yang lain, ingin tubuhnya dipotong-potong lalu dibagikan saja kepada anjing liar yang kelaparan.”

“Jangan tanya aku berteman dengan manusia dari mana.”

“Teman terakhir yang kutanyai, ingin jasadnya dikubur saja, Mar. Supaya para cacing dapat mengambil manfaat dari tubuhnya. Toh, selama ini ia tercipta dari tanah, makan dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Begitu katanya.”

“Semua akan kembali ke bentuk asalnya. Semua akan kembali ke bentuk asalnya. Semua akan kembali ke bentuk asalnya.”

“Ya, kan, Mar?”

Aku menerawang ke langit. Pandanganku jauh ke tempat yang tidak kuketahui. Semakin lewat tengah malam, langit semakin gelap.

“Begitulah Mar, kenapa aku bisa aku menjadi penggali kubur yang berdedikasi. Maksudku, aku ingin mengantarkan manusia mungkin ke cita-cita terakhirnya. Tidak semua orang bisa melakukan itu, kan? Ralat, tidak semua orang mau melakukan itu, kan?”

Orang-orang semakin tidak sabar. Aku bilang aku sedang berbincang dengan Mar. Mereka tidak boleh ganggu. Aku sudah semalaman di sini dan Mar di sampingku. Ayolah, Mar di sampingku. Manusia hanya percaya yang terlihat oleh mata. Hanya mau percaya yang terlihat oleh mata. Taukah mereka bahwa ada banyak hal lain yang ada dan belum tentu ingin dilihat oleh mata saja?

“Ayolah, Mar, kau dari tadi hanya diam saja.”

“Sudah berapa waktu aku di sini.”

“Kita kan tidak bisa lama.”

“Bantu aku untuk yakinkan kepada mereka bahwa aku tidak gila”

“Dan kau ada.”

“Aku tidak gila dan kau ada.”

“Mar…”

“Mar…”

“Mar...”

“Mar.”

“Mar!”

Aku mengambil cangkul, menggali tanah di sebelah sebelum matahari datang. Terakhir, melepas mata cangkul, menggoreskan sisi tertajamnya ke dua bola mata. Jika, mereka keras kepala Mar tidak ada, biarkan semua sama-sama buta agar tidak ada lagi yang bisa dipercaya.

“Sebentar lagi aku akan tidur di sini, Mar, di sebelahmu.”***

 

Melisa Nofem lahir di Indragiri Hulu. Menyelesaikan pendidikan sarjana pada Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Univesitas Negeri Yogyakarta (UNY). Karya yang pernah ditulis adalah buku-buku anak berbahasa Melayu dan Indonesia yang diterbitkan Balai Bahasa Prorvinsi Riau-Kemdikbud (Kemendikdasmen). Saat ini bergiat sebagai Konsultan dan Teacher di International Organization of Migration (IOM). Salah satu siswa Bidang Sastra (Cerpen) Sekolah Budaya Suku Seni Riau. Tinggal di Pekanbaru.

 

 

Editor: Anton WP




Berita Terbaru

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Redaksi

Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.
Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.