Minat Terhadap Karya Sastra Generasi Muda Menurun
HAFARA NURISRA (ISTIMEWA)
RIAU GLOBE (PEKANBARU) – Menurunnya minat terhadap karya sastra di kalangan anak muda semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ini bukan hanya menjadi perhatian para pendidik dan pemerhati literasi, tetapi juga menyentuh hati seorang penulis muda, Hafara Nurisra, yang melihat langsung gejala itu di lingkungannya sendiri.
Keresahan lahir dari pengamatannya terhadap teman-teman seangkatan, kakak tingkat, hingga adik tingkat di Universitas Islam Riau (UIR) yang semakin jauh dari dunia sastra dan lebih tenggelam dalam arus konten digital yang serba cepat.
Sebagai seorang penulis muda, ia merasa tidak bisa menutup mata ketika melihat semakin sedikit anak muda yang tertarik membaca atau menulis karya sastra.
“Di kelas, saat dosen membahas novel atau puisi, banyak teman saya yang kebingungan karena mereka tidak benar-benar membaca. Ada juga yang mengaku terakhir membaca buku sastra itu ketika SMA, itu pun karena tugas. Situasi ini miris, karena sastra itu seharusnya menjadi ruang untuk mengenali diri,” ungkap Hafara Nurisra, belum lama ini.
Dijelaskannya, ketika berbincang dengan kakak tingkat, mereka sering bernostalgia tentang masa ketika klub baca, lomba baca puisi, dan diskusi karya sastra menjadi acara yang ditunggu-tunggu. Namun, generasi terkini, banyak yang tak tertarik dengan dunia sastra. Termasuk membahas atau malah belajar menulisnya.
afara mencontohkan, saat mencoba mengajak teman-teman untuk membaca sebuah kumpulan cerpen, banyak dari mereka yang merasa tidak terbiasa dan lebih asyik dengan gawai di tangannya yang banyak memberikan berbagai hiburan.
“Ada yang bilang membaca cerpen itu bikin ngantuk. Bahkan ada yang bilang tidak tahu cara menikmati puisi. Saya lihat generasi sekarang tidak lagi memiliki kedekatan emosional dengan sastra. Mereka tumbuh dalam dunia yang serba cepat, jadi budaya membaca yang perlahan dan penuh keheningan terasa asing bagi mereka,” jelas alumni SMAN 1 Sungai Apit, Kabupaten Siak, ini.
enyebab utama menurunnya minat baca karya sastra ini, menurut Hafara, karena dominasi media sosial dan konten digital yang bersifat instan. Anak muda lebih sering mengonsumsi video berdurasi beberapa detik dibandingkan membaca cerita yang membutuhkan waktu, imajinasi, dan perenungan.
"Sastra tidak bisa bersaing dengan kecepatan internet. Namun justru di situlah keindahannya. Sastra mengajak kita berhenti sejenak, merasakan kata-kata, memahami kehidupan dengan lebih halus,” jelas penulis novel The Greatest Lover itu.
Selain itu, menyinggung peran lingkungan. Kita bisa melihat bahwa banyak keluarga yang tidak membiasakan anak membaca sejak kecil. “Kalau dari kecil kita tidak dikenalkan dengan buku, wajar saja jika besar nanti kita tidak akrab dengan sastra. Budaya literasi harus dibentuk, bukan hanya ditugaskan,” katanya.
Dikatakannya, pemerintah saat ini banyak memberikan peluang untuk generasi muda, tinggal generasi muda yang menjalankan. Misalnya, Balai Bahasa Provinsi Riau (BBPR) punya program yang membantu menumbuhkan jiwa sastra pada anak muda, juga program-progam yang membangkitkan karya-karya baru. Selain itu, BBPR juga berkolaborasi dengan komunitas sastra yang ada di Riau dalam membina perkembangan kesastraan.
Dengan kesadaran sebagai anak muda, kata dia, pemerintah sudah memberikan peluang yang cukup besar untuk masuk ke dunia sastra. Mencintai sastra tidak harus mulai dari hal yang besar, namun memulai dari yang kecil hingga kita nyaman dan menemukan rumah di hati generasi muda.
“Dari satu kata, menjadi sebuah kalimat, lalu menjadi sebuah paragraf hingga membentuk satu karya sastra untuk generasi selanjutnya. Paling tidak, jika merasa tak memiliki kemampuan menulis sastra, membaca adalah salah satu hal yang bisa membangkitkan kita untuk belajar menulisnya,” jelas Hafara.(rg-01)
Redaksi
Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.


















