OLEH HAFARA NURISRA

Menjaga Identitas Bangsa Melalui Bahasa Melayu Riau

Budaya Jumat, 16 Januari 2026 - 01:04 WIB | 91 klik
Menjaga Identitas Bangsa Melalui Bahasa Melayu Riau

BAGI sebagian remaja Riau yang merantau ke daerah lain, bahasa Melayu Riau kerap menjadi sesuatu yang disembunyikan. Di lingkungan baru, logat dan kosakata daerah sering dianggap berbeda, bahkan tidak jarang menjadi bahan candaan. Kondisi ini membuat sebagian remaja memilih untuk meninggalkan bahasa ibunya karena takut dicap kuno, kampungan, atau tidak gaul. Rasa malu tersebut tumbuh perlahan hingga bahasa yang dahulu akrab digunakan di rumah sendiri menjadi terasa asing di lidah penuturnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan diri terhadap identitas budaya di kalangan generasi muda. Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), globalisasi dan dominasi bahasa nasional serta bahasa asing telah memengaruhi sikap berbahasa generasi muda, terutama di wilayah urban dan perantauan. Bahasa Indonesia dan bahasa asing sering dipersepsikan memiliki nilai prestise lebih tinggi dibandingkan bahasa daerah, sehingga bahasa daerah dianggap tidak relevan dalam pergaulan modern.

Baca Juga : Mar

Padahal, secara historis bahasa Melayu Riau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pembentukan identitas kebangsaan. Hal ini juga ditegaskan oleh Tenas Effendy, budayawan dan sastrawan Melayu Riau, yang menyatakan bahwa bahasa Melayu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan penopang utama adat, marwah, dan jati diri orang Melayu. Dalam berbagai tulisannya, Tenas Effendy menekankan bahwa hilangnya bahasa Melayu berarti runtuhnya nilai dan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tenas mengatakan,  bahasa adalah tiang utama marwah bangsa; apabila bahasa runtuh, maka runtuhlah adat dan jati diri suatu kaum (Effendy, 2004).

Kutipan ini menegaskan bahwa bahasa Melayu Riau tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan nilai, adat, dan identitas masyarakat Melayu. Para ahli bahasa, sebagaimana dijelaskan dalam kajian Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, menyebutkan bahwa bahasa Melayu khususnya ragam Melayu Riau menjadi salah satu fondasi utama lahirnya bahasa Indonesia. Fakta historis ini menegaskan bahwa bahasa Melayu Riau bukan sekadar bahasa daerah, melainkan bagian penting dari sejarah nasional.

Ironisnya, kesadaran historis tersebut belum sepenuhnya dimiliki oleh para penuturnya. Ungkapan adat, pantun, dan tuturan halus yang sarat nilai moral kini lebih sering terdengar dalam acara adat atau ketika pulang kampung. Di ruang publik perantauan, bahasa daerah seakan kehilangan tempat. Padahal, UNESCO menegaskan bahwa bahasa daerah memiliki peran strategis sebagai media pewarisan nilai budaya, kearifan lokal, dan identitas kolektif suatu masyarakat. Ketika sebuah bahasa jarang digunakan, maka ancaman kepunahan budaya pun semakin besar.

Rasa malu menggunakan bahasa Melayu Riau di perantauan juga berdampak pada terputusnya proses transmisi budaya antargenerasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan cerminan cara berpikir, bersikap, dan memaknai kehidupan. Ketika remaja enggan menggunakan bahasa daerahnya, mereka secara tidak langsung memutus rantai pewarisan nilai yang telah dibangun oleh leluhur.

Oleh karena itu, sudah saatnya remaja Riau memandang bahasa daerah sebagai identitas yang patut dibanggakan, bukan disembunyikan. Menggunakan bahasa Melayu Riau, meskipun hanya sesekali dalam percakapan sehari-hari, merupakan bentuk keberanian untuk mempertahankan jati diri di tengah arus modernitas. Di perantauan, bahasa daerah justru dapat menjadi penanda keunikan dan kekayaan budaya, bukan simbol keterbelakangan.

Menjaga bahasa daerah Riau bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tokoh adat, tetapi juga kewajiban generasi muda sebagai pewaris budaya. Dengan menumbuhkan rasa bangga dan kesadaran historis terhadap bahasa Melayu Riau, remaja masa kini dapat berperan sebagai jembatan antara tradisi dan dunia modern. Selama bahasa Melayu Riau tetap hidup di lidah para penuturnya, identitas bangsa akan terus terjaga, di mana pun mereka berada.***

Hafara Nurisra adalah mahasiswa FKIP Universitas Islam Riau (UIR). Tinggal di Pekanbaru.




Berita Terbaru

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Redaksi

Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.
Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.