CERPEN RANANG AJI SP

Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk

Budaya Minggu, 28 Desember 2025 - 19:19 WIB | 200 klik
Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk

(THE NEW YORK TIMES)

Surabaya, April 1854.

MATAHARI panas menyengat saat itu. Sinarnya semacam pinjal menggigit punggungku tanpa ampun. Dalam beberapa waktu, panas itu membuat buluku menipis. Batu-batu di bawah kakiku terasa panas dan menusuk, tapi, aku mencoba untuk tidak merasakannya. Jalanan ramai dengan orang dan kendaraan yang lalu lalang; ada pula dokar dan gerobak. Pada separuh perjalananku, lamat-lamat kudengar suara gamelan mengalun dari sebuah kampung di kejauhan. Suaranya tenang, tapi mengingatkan rasa lapar. Aku mencoba mengabaikannya dan terus menyusuri jalan sembari mendengus sepanjang sejarah yang bisa kulewati. Kemudian, aku sampai di antara tembok-tembok gedung megah Belanda. Di sana, bayang-bayang membentang tipis seperti rahasia yang dibisikkan Iblis.

Baca Juga : Mar

Di gedung besar itu, aku melihat sebuah papan kayu lapuk dipaku miring di atas gerbang warna hitam. Permukaannya yang kasar tertulis Honden en Inlanders Verboden dengan cat putih yang mengelupas. "Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk". Kata-kata itu angker, menyeramkan seperti patung gupala. Aku mengendus-endus di sepanjang garis tepian gerbangnya. Sembari tulang rusukku menghitung waktu yang berlalu, hidungku bergerak-gerak ke arah sesuatu yang samar dan busuk dari dalam selokan. Rasa lapar menggerogoti tubuhku. Rasanya lebih perih dari sekadar tusukan batu-batu di bawah kakiku. Ekorku menggantung rendah, menyeret debu.

Di dalam gerbang, aku hanya bisa melihat air mancur marmer menggiring bola dengan malas ke dalam kolam yang bersih, dikelilingi oleh rumput yang begitu hijau seolah mengejekku, seolah membandingkan kemakmurannya dengan kemiskinanku. Lalu, kudengar sepatu hitam berderap di atas batu-batu bulat. Suara seorang wanita terdengar keras, tajam menusuk, dan di lehernya kulihat kerah kaku berbingkai renda dan kanji, seolah ingin membelah udara. “Mereka harus belajar disiplin,” aku dengar dia berkata begitu. "Mereka harus tahu diri!" Seolah dia berteriak untukku. Seorang pelayan berkulit coklat kulihat membungkuk-bungkuk begitu rendah hingga nyaris seperti melipat dirinya menjadi dua. Lalu, aku melihat saputangan wanita itu terjatuh. Pelayan itu bergegas memungutnya. Wanita bule itu menerimanya dengan sentakan tangan, mengibaskannya, lalu bicara dengan nada marah hingga menembus udara, setajam pecahan kaca. Wajah pelayan itu ketakutan, tapi sekilas matanya melihatku.

"Jauhkan anjing buduk itu," kata wanita bule itu ketika melihatku.

Pelayan itu mengayunkan tangannya. "Huss," suaranya tinggi mengusirku, tapi, ada rasa iba dalam matanya.

Aku melirik ke arah pohon beringin, di mana Karto berjongkok sembari mengetuk-ngetuk tongkatnya di tanah seperti cakar yang gelisah. Dia juga tengah memperhatikan dua orang di dalam gerbang itu. Sorot matanya iri dan penuh kemarahan. Ketika pelayan itu mencoba menjauhkanku dengan suara ragunya, Karto tersenyum sinis.

“Kenapa kamu ngeyel seperti itu?” tanyanya. Suaranya lirih, dan terdengar membawa rasa frustrasi dalam kehidupan.

Tidak,” kataku lirih sambil mendekatinya dan menjilati kakinya yang terluka.

"Bohong,” dia mendengus. “Kau pikir mereka akan membiarkanmu masuk? Kamu sama saja seperti aku.” Dia mengayunkan tongkatnya. Debu-debu beterbangan seperti gelisah. “Satu gerakanmu salah, mereka akan...” Karto mematahkan tongkatnya menjadi dua dengan sebuah sentakkan. Kata-katanya menggantung di sana, belum selesai, tapi aku tahu apa yang dia maksud.

“Aku tidak berniat mau masuk,” kataku. Namun, mataku seolah bicara lain di mata Karto. Kemudian dua orang di dalam gerbang itu tampak berjalam melewati rumput dan air mancur.

“Kamu tahu tak rasanya ada di dalam sana?” tanya Karto, nadanya lebih lembut kali ini. Dia mendekat, lalu berjongkok di dekatku, sehingga bayangannya menimpa tubuhku. Aku ragu-ragu.

“Mereka punya banyak makanan,” jawabku. Kata-kata itu menggeram di tenggorokanku.

“Makanan sungguhan. Daging merah. Mentega.”

"Ya, mereka punya segalanya. kecuali hati nurani," kata Karto. Dia tertawa, pahit dan pendek. Suaranya seperti membawa uap api. Api yang membakar dirinya sendiri.

“Tak perlu dipikirkan," katanya, "kau hanya bayangan tak penting bagi mereka. Bahkan mungkin tak ada sama sekali.”

"Dan kau?"

Karto tertawa pendek, sebelum menjawab, "Ya, aku juga."

“Kau pernah di dalam sana?” aku bertanya, mengangkat kepalaku.

Karto mengangkat bahu. “Tentu saja. Sekali. Aku melihat banyak hal di sana. Makanan dan banyak harta. Terasa seperti mimpi.”

“Lalu?”

“Lalu? Tidak ada. Tak ada apa-apa.” Suaranya serak dan mengganjal tenggorokannya. Jelas suaranya ragu. Karto diam, seperti tengah menikmati rasa sakit. Lalu dia tertawa. "Mereka menangkapku sebelum aku menelan makananku. Membawaku ke aula dan mematahkan kakiku."

"Kau bermasalah dengan hidupmu," kataku. Karto melihatku. Sinarnya lemah.

"Kita lahir dengan masalah. Dan mereka datang memberi kita banyak tambahan masalah. Kita hanya menerimanya dan kalah."

"Apakah manusia satu kelas dengan anjing?" Aku bertanya.

"Mereka yang membuatnya begitu."

"Mereka bukan manusia?"

"Bukan. Mereka berkulit putih. Mereka dewa."

"Jadi, manusia memuja para dewa?"

"Siapa yang memuja orang, tak punya otak. Hanya yang berotak yang tak memuja."

"Apakah manusia?

"Bukan, maksudku, orang kalah selalu memuja."

"Jadi, orang kulit putih adalah pemenang?"

"Bukankah sudah jelas? Kita hanyalah mahluk inferior. Orang kalah."

"Jadi, mereka superior dan selalu benar?"

Suara gamelan terdengar melayang di udara lagi, jauh dan sayup-sayup. Aku menyenandungkan tembang itu dalam hati, mencoba merasakannya sebagai rengekan lembut yang meredakan rasa sesak di dada. Karto berdiri, melemparkan tongkatnya yang patah ke samping. “Mungkin suatu hari nanti,” katanya, nyaris seperti kepada dirinya sendiri. “Mungkin kita akan menang dan masuk ke sana. Mencicipi apa yang mereka miliki.”

Aku menggelengkan kepala. Tulang leherku seperti berderit.  “Aku rasa tidak.”

“Terserah kamu,” gumamnya sambil membalikan tubuhnya untuk pergi. Langkahnya tetap, tapi aku menangkap keraguan suaranya.

Setelah Karto menjauh, aku berbaring lemas di dekat gerbang hingga matahari terbenam, melukiskan kota dalam bayang-bayang panjang. Papan angker di atas gerbang itu menatapku dengan sorot mengejekku, kata-katanya terasa berat kutanggung, bahkan ketika aku tidak melihatnya. Lalu, suara ibuku mengisi kepalaku. Mengusik ingatanku. Ada sebuah pesan yang selalu kuingat setelah Karto menyebut kalah dan inferior. Ketika itu bulunya masih tebal dan giginya tajam. “Jika mereka melihatmu,” katanya, ”tunduklah. Jika mereka berbicara, tundukkan kepalamu. Jika mereka marah, kamu harus segera menjauh.” Moncongnya menempel pada wajahku sebelum dia pergi dan tak kembali.

Sungai itu mengalir dengan suara berisik. Airnya yang berlumpur berkilauan di bawah sinar matahari yang mulai redup. Aku mendekat, duduk di atas batu dengan cakar menjuntai ke dalam arusnya yang sejuk. Kata-kata Karto terus terngiang di telingaku. Mungkin dia benar. Mungkin kami hanyalah para mahluk yang bermasalah dan kalah. Orang pribumi dan anjing hanyalah mahluk inferior dan kalah. Tapi malam ini, di bawah pohon beringin, dengan alunan gamelan yang berputar-putar di kepalaku, aku masih mencoba bertahan di sini bersama rasa lapar. Aku  hanya berpikir, mencari cara bagaimana bisa masuk dan merampas makanan mereka. Aku ingin menjadi pemenang.

Malam tiba, dan bintang-bintang menusuk langit seperti tusuk jarum. Lalu, suara gemerisik menarik telingaku ke depan. Pintu gerbang berderit terbuka, dan menumpahkan cahaya kuning ke jalan setapak. Aku melihat seorang pelayan melangkah keluar dengan hati-hati, kepalanya menunduk, tangannya membawa nampan berisi makanan. Dia adalah pelayan dengan mata iba yang sempat mengusirku. Dia meletakkan nampan itu di dekat pagar, wajahnya menoleh ke belakang dengan gugup, sebelum kemudian mundur ke dalam cahaya.

Begitu dia pergi, segera saja aku melupakan keinginanku mencari cara untuk masuk dan merampas makanan. Aku sadar aku sudah menemukan tujuanku, mengisi perutku yang kosong. Dengan perlahan, aku bangkit dan mendekati makanan itu. Tubuhku menunduk ke tanah, dan hidungku menangkap aroma sesuatu yang kaya dan asing. Daging, hangus dan berminyak. Mulutku berair, lidahku menjulur, tapi aku masih ragu. Namun, itu hanya sekejap. Segera saja aku memakannya. Tanpa sisa. Setelah itu aku tidur di samping gerbang. Berharap datang makanan yang sama ketika bangun.

Esoknya, ketika seorang bule keluar dari pintu gerbang. Dia melihatku. Awalnya dia hanya kaget, tapi setelah itu, dia berteriak dengan kebencian. Dia mencoba mengusirku dengan tongkatnya. Tapi aku tidak takut. Bahkan aku menjadi geram dan marah. Segera saja aku menggigitnya. Tepat di betisnya. Dia berteriak, memakiku anjing buduk, lalu seseorang bergegas datang dengan senapan, dan menembakku.***

Ranang Aji SP menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan berbagai media cetak dan digital seperti Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, dan lainnya. Menulis buku Sejarah Cerita Pendek dan Perkembangannya (2025). Tinggal di Magelang, Jawa Tengah.

 

Editor: Anton WP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Berita Terbaru

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Redaksi

Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.
Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.