CERPEN DODY WIDIANTO

Senja Berlabuh di Dermaga

Cerpen Minggu, 31 Mei 2026 - 11:39 WIB | 50 klik
Senja Berlabuh di Dermaga

(PIXABAY)

DI tangan pemegang kekuasaan, kebenaran bisa direkayasa dan dibeli. Kejujuran tak berharga di kota ini. Keputusanmu untuk segera pergi sudah bulat. Di tepi dermaga, ketika kapal hendak lepas dari tepian daratan, kau mendongak. Melihat langit di atas serupa kapas yang bergelimpangan di seprai biru. Gumpalan putihnya seolah tergambar nyata di bawah warna biru yang kontras. Sejujurnya langit pun seolah ingin mencegah keputusanmu. Namun, tekadmu sudah bulat. Di tengah-tengah perjalanan, kau ingin mengakhiri semuanya. Untuk apa lagi kau tetap ada di kota ini.

 Maka, ketika di kejauhan menara suar seolah-olah telah melambai-lambai mengucapkan selamat tinggal untukmu, angin kencang yang mengecup pipimu di atas kapal ikut menasihatimu dalam sendu: “Jangan lakukan! Kau masih muda. Kau masih punya perjalanan panjang dan cita-cita. Putus asa hanyalah pilihan bagi manusia pecundang!”

 Kau tak perlu menjawab pada angin. Kau tak perlu menjelaskan pada gumpalan awan di atas sana yang mereka semua pun tak akan pernah paham. Padahal kau yakin sekali, semua kejadian seminggu lalu hanyalah kesalahpahaman belaka. Namun, betapapun kau menjelaskan kepada manusia dungu, sampai kapanpun mereka juga tak akan pernah paham.

Ikatan tas pinggangmu kau kencangkan ke punggung. Kedua tanganmu mencengkeram erat tali tas di punggungmu itu. Suara cerobong asap di samping kananmu terdengar bergemuruh. Beberapa orang lalu lalang di depan dan di belakangmu. Kau masih saja terus memandang hampa pada air selat yang terus beriak. Di tepi pagar pembatas kapal, di lantai paling atas yang langsung berbatas langit, rencananya kau akan mengakhiri kisah ceritamu ini. Entah nanti jalan apa yang akan kau pilih.

Rasa-rasanya kau tak akan sanggup bercerita semua kekalutanmu untuk ibumu yang renta. Yang saban hari hanya menyadap karet. Kau tak tahu harus bagaimana menceritakan untuknya. Kau yang seharusnya sebentar lagi wisuda, malah pulang. Membawa serta kisah yang bisa saja malah akan memperparah keadaan. Sayang, kau tak punya saudara untuk berkeluh kesah. Haruskah kau bertanya pada langit? Pada pegunungan di kejauhan? Pada angin kencang yang terus mengelus rambutmu? Bisakah ia memberimu jawaban? Kau menggeleng tak yakin.

Kau benar-benar ingat jika kejadian kemarin itu hanyalah buntut panjang dari kesalahpahaman. Kau terlalu lelah sepulang mengojek di sela kuliah, hingga kau memutuskan berhenti di sebuah toko kecil serba ada. Kau duduk di terasnya. Kau keluarkan ponsel. Kau keluarkan kabel charger dan mulai mengisi daya. Kau buka minuman ringan yang telah kaubeli sebelumnya. Hingga kantuk mendera, kau kaget. Terbangun dan mungkin telah tidur sebentar. Kau tak tahu berapa lama. Namun, langit di kejauhan terlihat menggelap.

 Kau buru-buru mencabut kabel pengisi daya. Mengambil ponsel. Memasukkan dalam tas dan segera beranjak pulang. Sampai rumah kau baru sadar. Ponsel yang kaubawa bukan ponsel milikmu. Pasti ponselmu tertukar dan nyawamu belum terkumpul sempurna ketika itu. Kau seolah ingat ada ponsel dengan besar yang sama dan warna sama. Kau terlalu buru-buru.

 Kau kembali lagi esoknya ke toko itu sebelum bekerja. Namun, sampai di sana, kesalahpahaman dimulai. Kau dituduh mencuri ponsel itu. Sudah kau jelaskan berulang. Ada dua ponsel di pengisi daya di teras toko. Pemiliknya mungkin sedang di dalam. Kau tetap ngotot dan mejelaskan tak ingin mencuri ponsel itu. Sayang sekali, rekaman CCTV toko tertutup badanmu yang agak gembul. Polisi tidak bisa memastikan keadaan apakah di sana ada 2 ponsel dan kau mengambil 1 ponsel saja. Alibimu belum terlalu kuat.

 Toko mendatangkan pemilik ponsel yang tertukar. Kau mengajak kata damai dan kau bersedia membayar ganti rugi atas kejadian itu. Kau malah kehilangan ponsel aslimu. Kau tanyakan itu dan kata pihak toko sedang disita polisi untuk penyelidikan. Kau kembalikan ponsel milik orang lain yang tertukar dan atas nama permintaan maaf, tak perlu disuruh, kau transfer uang 500 ribu untuk bapak-bapak ojol yang ponselnya tertukar denganmu. Bapak ojol itu awalnya tak mau menerima, ia juga telah meminta maaf padamu karena telah membuat laporan kehilangan ke kantor polisi hingga kasus ini terus diselidiki. Apakah kesengajaan atau tidak.

 Buntut panjang itu, kau pergi ke kantor polisi dan menanyakan ponselmu yang hilang itu. Namun, kau merasa dilempar ke sana ke sini. Disuruh mengunggu besok. Dan alasan lain yang kau pun tak bisa menemukannya. Sebab apa? Tinggal mengembalikan saja apa susahnya? Kalau mereka meminta uang tebusan, kau yakin tak akan memberinya. Mereka sudah digaji bulanan beserta tunjangannya. Untuk apa? Padahal mereka tahu kau telah berdamai dengan pemilik ponsel yang tertukar dan kasusnya tidak berlanjut ke persidangan.

 “Kasus ini tidak berlanjut juga atas jerih payah kami. Percobaan pencurian juga bisa dituntut 7 tahun penjara. Jadi hati-hatilah dalam bertindak. Sudah semestinya kau berterima kasih pada kami.”

“Saya minta maaf, Pak. Terima kasih sebelumnya. Cuma kesalahpahaman saja, Pak. Saya tidak tahu kalau akan jadi seperti ini.”

 “Menurutmu salah paham cuma bisa ditutup dengan kata minta maaf. Tidak segampang itu. Lagi pula itu ‘kan cerita versimu. CCTV tak dapat menjangkau tempatmu duduk di pojok teras toko itu. Mana ada maling yang mengaku maling.”

  “Kalau misalkan saya hendak mencuri, kenapa ponsel saya masih tertinggal di toko itu. Logikanya, saya akan membawa dua-duanya pulang.”

 “Kau terlalu buru-buru dan kurang lincah dalam mencuri. Belajar lagi.”

Seandainya kau berada di luar ruangan, ingin kautonjok rahang orang berseragam di depanmu. Minimal 3 sampai 6 gigi bisa rontok. Sempat-sempatnya ia tersenyum menjawab segala ucapanmu. Namun, di ruangan tertutup dengan penjagaan ketat dari luar, kau tak bisa mengelak dari semua interogasi yang terus menyudutkan. Seolah kata-kata itu jadi ejekan untukmu dari orang rantau yang tak punya. Kuliah di seberang dari jalur bidik misi. Orang di depanmu adalah petugas berseragam yang katanya selalu melayani dan mengayomi masyarakat. Kau tak tahu dari mana semboyan karangan itu.

 “Jadi ponsel saya bisa kembali syaratnya apa? Bukankah saya sudah tidak bisa dipenjara karena BAP telah dicabut?”

 “Anda harus peka saja.”

 Oh. Sudah kuduga. Di negeri yang makmur ini, kemakmuran hanya dimiliki oleh segelintir orang-orang. Pangkat dan jabatan memang alat yang canggih untuk memeras orang.

 “Saya punya 300 ribu saja, Pak. Sejujurnya itu uang dari ibu saya untuk biaya makan selama sebulan. Sebulan sekali saya pulang ke pulau seberang.”

“Mungkin Mas bisa balik lagi ke sini besok.”

 “Kalau begitu saya pamit dulu, Pak. Kalau ada uang lebih saya kembali ke sini.”

 “Baiklah. Saya tunggu kesepakatannya.”

 Kau mengangguk terpaksa. Beranjak akan pulang. Bersalaman dalam ketidakpuaasan. Lalu membayangkan dari mana bisa mendapat uang banyak dengan cepat. Seandainya di dalam ponsel tidak ada data-data persiapan tugas akhir kuliah, kau akan merelakannya ponsel itu hilang dan membiarkan jadi bangkai di kantor itu. Kau pulang dalam gontai. Menyalakan motor dalam laju yang terlalu pelan. Pikiranmu melayang-layang.

Hingga hari keempat, kau belum juga mengambil ponsel itu. Sebuah surat datang ke tempat kuliahmu. Sebuah surat yang isinya serupa pengancaman. Seolah mereka punya bukti valid di CCTV dari sudut lain yang bisa saja menjebloskanmu ke penjara. Mengembalikan BAP itu menjadi baru atas rekayasa mereka. Kau mengerutkan dahi. Kau tak sanggup membacanya. Kau duduk termangu di teras gedung tempat kuliahmu. Kau lihat rupiah yang menggembung berkali-kali lipat dari sebelumnya jika ponselmu tak segera diambil. Jalan satu-satunya, mungkin kau akan pulang kampung sebentar. Menjual lima kambing peliharaan ibumu dan mungkin mengiris sedikit lahan di samping rumahmu agar segalanya selesai dan beres.

Di atas kapal yang terus melaju perlahan, ada bayang senyum ibumu yang menunggumu yang sekarang melambai dan seolah tergambar di angkasa seberang. Kau tak tahu bagaimana harus menceritakan segalanya dari awal mula. Sungguh kau tak akan tega. Kau dibesarkan seorang diri. Ayahmu meninggal ketika longsor di penggalian tambang. Bahkan hingga detik ini jasadnya tak pernah ditemukan. Jalan hidupmu seharusnya akan cemerlang jika selesai kuliah, kau akan dipesan banyak perusahaan dan kantor-kantor dalam negeri. Kau akan jadi rebutan mereka. Kau bisa nego gaji. Kau bisa membangun rumah gedung megah menggantikan rumah dinding anyaman bambu milik ibumu. Lantainya dari marmer dan temboknya bercat biru yang wangi. Kursi dan mejanya dari kayu jati berukir asli. Semua kerja kerasmu akan membayar semua susah payah ibumu. Ia akan bangga padamu.

Namun, selepas senja kapal ini berlabuh di dermaga, akankah kau berani cerita untuknya? Bagaimana kalau tanah di kampung juga sudah terjual untuk melunasi utang mendiang bapak sebelumnya? Untuk membesarkanmu dan menyekolahkanmu hingga saat ini? Kau benar-benar bingung.

Di pagar besi tepi kapal, di lantai paling atas, kau terus memandang air selat yang terus bergolak serupa hatimu yang tak bisa tenang. Kau pandang langit di ujung. Dua jam perjalanan. Sebentar lagi mendarat. Menara selamat datang di kejauhan tampak mendekat. Kapal perlahan merapat ke bibir dermaga. Langit tiba-tiba berubah jelaga. Di bawahnya warna jingga muda seperti garis lurus menjadi tepi di alasnya. Matahari mulai sembunyi di balik bukit sana. Kau masih kaku membisu di tepi pagar ketika orang-orang berbondong hendak turun.

Hingga kapal benar-benar berlabuh, sebuah deburan keras serupa benda jatuh membuatmu kaget. Orang yang berdiri di sampingmu, yang setia cerita dengan cera, tak disangka menceburkan diri ke dalamnya air selat. Kau teriak pada pada orang-orang. Kau meminta petugas kapal segera menolongnya atau membawakannya pelampung. Kau tak tahu jalan pikiran pria di depanmu. Begitu nekat. Kau tahu ia selalu tertawa, selalu ceria sebelum satu jam kapal ini berlabuh dan ia mendekatimu berbagi cerita. Betapa pikiran manusia susah ditebak.

 Kau cengkeram erat-erat pegangan besi kapal dan seolah ingin bertanya pada hatimu sendiri, “Apa malaikat pernah salah alamat? Harusnya kau yang ingin menceburkan dirimu tadi?” Kau belum mendengar jawaban hingga senja benar-benar berlabuh di dermaga. Lalu senja itu berkata padamu lirih, lirih sekali, “Kejujuran memang kadang tak berharga di negeri ini, tetapi kamu lebih berharga dari apa pun untuk ibumu. Putus asa hanyalah pilihan akhir bagi seorang pecundang!”***

Dody Widianto lahir di Surabaya. Karyanya tersiar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Kompas.id, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Bangka Pos, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll.

 

Editor: Anton WP

 

 




Berita Terbaru

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Redaksi

Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.
Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.