CERPEN FAISAL FADHLI

Dari Balik Terali

Cerpen Kamis, 05 Maret 2026 - 22:09 WIB | 190 klik
Dari Balik Terali

(OKEZONE)

PINTU terali bergeser. Suara besi-besi bertemu. Ting! Tek! Kleng! Cukup nyaring hingga mampu membangunkan kami yang baru saja kesirep. Sipir membopong seorang tahanan dan membawanya keluar. Mereka tampak terburu-buru, entah dikejar apa.

"Ke mana mereka memindahkan orang itu, Lom?" saya bertanya pada Kalom yang memanjat terali sel agar bisa melihat ke mana sipir membawa kawan kami.

"Tidak tahu Kung, tidak kelihatan.” Kalom masih mencoba menempelkan pipinya di pintu sel.

Saya berusaha keras menegakkan punggung. Senti demi senti ditopang dinginnya tembok sel. Tidur hanya beralas kardus juga menjadi salah satu harga yang harus saya bayar ketika memutuskan masuk ke sini. Ini kedua kalinya dalam sebulan sipir memindahkan orang tengah malam. Untuk apa dan ke mana, kami tak tahu.

“Bebas mungkin?” Temir menggumam. Kepalanya berbaring di atas tangannya.

“Tengah malam begini? Dibopong pula,” kata Supil kurang yakin dengan dugaan Temir. Sebab jika ada napi yang keluar dari sel karena bebas, dipindahkan, atau dieksekusi, pasti Supil dengan senang hati melakukan kebiasaannya, takbir pada Yang Maha Perkasa. Ia sudah melakukan kebiasaan itu sejak lama. Tanpa pilih-pilih orang maupun perasaan. Contohnya pada bapak tua penghuni sel pojok saat dijemput tengah malam untuk dieksekusi, Supil melakukan takbir kuat-kuat untuknya.

“Takbir! Takbir untuk Yang Maha Perkasa!” Pekiknya kala itu. Bapak tua penghuni sel pojok ikut memekikkan takbir mendukung Supil. Dari suara yang awalnya gahar sampai nglokor.

“Untuk mengusir setan, Kung!” jawabnya suatu kali saat saya tanya.

Padahal Supil tak giat beribadah. Memang ia kerap datang ke kajian saat ada pemuka agama mampir. Namun ia tidak melaksanakan perintah lainnya. Hanya saja Supil merasa keagungan Yang Maha Perkasa bisa memberikan energi pada orang lain dan dirinya sendiri. Ia sangat menghormatinya. Oleh karena itu tak boleh dikotori dengan candaan. Itu ia buktikan pada seorang napi di sel seberang. Ia tersinggung saat melihat napi berambut ikal dengan bibir sumbing itu menyeringai kala dirinya mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil memekikkan takbir. Keesokan harinya napi malang itu hadir makan dengan memegangi rahang yang geser.

Baca Juga : Mar

Saya mulai memegangi kembali punggung belakang. Rasanya seperti kemasukan kaki seribu. Menggeliat panas dari leher sampai tulang ekor. Nyerinya bikin susah tidur.

“Nyeri lagi ya, Kung?” Kalom menarik kardus alas tidur saya. Ia pindah ke belakang, lalu mencoba memijat bagian punggung saya pelan-pelan.

Cara memijat anak muda ini mengingatkan saya pada cara memijat istri saya dulu. Istri saya juga memijat dengan lemah lembut. Kepalan seukuran kesemek itu terlalu kecil untuk punggung saya. Tapi saya akan selalu memujinya. Ia berhenti ketika nafas beratnya mulai terasa di leher saya.

Sejak ia pergi saya tetap melakukan kebiasaan yang sering kami lakukan di kala berdua. Masih menyiapkan teh jahe setiap habis Isya. Dengan cangkir bermotif bunga tulip merah favoritnya. Saya tetap menyuguhkan dua cangkir di atas meja. Satu untuk saya, dan satu lagi untuk kenangannya.

“Bunga tulip merah itu perlambang cinta, Mas. Aku menyukainya. Sama seperti aku menyukaimu.”

Ia selalu mampu menghibur hati saya, yang meski terlihat tenang di luar, namun menyimpan kekhawatiran di dalam.

Rumah saya terasa cukup lebar saat ia tiada. Padahal saya tidak memindahkan perabot apa pun. Saya kurang suka suasananya, dulu sebentar-sebentar bahu saya bisa bertemu dengan kepalanya jika sedang berpapasan. Kadang ia berhenti untuk mencium bahu saya, begitu juga saya yang sambil malu mengecup keningnya. Sangat menyenangkan.

Anak-anak tidak memperhatikan sisi romantis itu telah hilang. Mereka hadir hanya untuk perayaan kepergian ibunya. Menyiapkan bingkisan bagi para tamu berisi nasi kotak dan kue-kue basah. Mereka jarang bertanya bagaimana keadaan saya. Setelah acara usai mereka kembali pada kehidupannya masing-masing.

Saya pernah mendengar mereka berdebat tentang di mana kira-kira saya bisa dirawat. Tidak ada kesepakatan di antara mereka. Namun ada satu tempat yang sempat disebut.

“Ya sudah, di panti saja. Di sana bapak bisa punya teman mengobrol kan.”

Saya muncul dari balik kamar untuk menghentikan perdebatan sia-sia itu. Sebetulnya saya sudah pernah mencoba untuk ikut bergaul dengan bapak-bapak seusia saya di pos ronda. Hanya saja obrolannya tak cukup membuat saya ingin terlibat. Saya tidak terampil membicarakan para janda-janda yang mereka incar sebagai pendamping khayalan selanjutnya. Saya takut istri saya di atas sana mendengarnya dan jadi cemburu. Toh, ikut tinggal di rumah anak-anak juga percuma. Mereka akan segera bosan dan melempar saya dari satu rumah ke rumah yang lain.

Sebetulnya di panti jompo saya berhasil bergaul dengan sesama lansia lainnya. Obrolannya pun beragam. Tentang masa muda mereka. Tentang sang pujaan yang juga telah tiada. Tapi lebih sering melompat-lompat topik obrolannya. Saya maklum saja, karena kebanyakan sahabat baru saya sudah mulai pikun. Kegiatan rutin kami adalah sedikit berjemur dan menggerakkan badan di pagi hari. Menonton gosip pagi di televisi ruang tengah. Juga kadang melakukan kegiatan kreatif seperti merangkai bunga dan melukis. Saya lebih suka mengajari mereka meramu teh jahe kesukaan istri saya.

Saya cukup senang berada di panti. Saya merasa menemukan keluarga baru. Akan tetapi di panti jompo dulu saya tidak tahu sampai kapan bisa berkawan dengan sahabat-sahabat saya. Berbeda dengan di dalam sel. Di sini saya bisa tahu. Asal mereka dengan sukarela menyebutkan masa tahanan masing-masing, saya akan tenang. Saya juga bisa bersiap-siap untuk mengucapkan selamat tinggal kalau sewaktu-waktu mereka keluar. Apa pun alasannya.

Di panti jompo saya sering melihat sahabat-sahabat yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri pergi begitu saja. Padahal sebelumnya mereka mampu berbaring dan membagi ceritanya sambil mengawasi langit-langit. Sebelum pergi ada satu ciri khas dari mereka semua. Mendadak satu hari sebelumnya mereka tampak bahagia. Tertawa sampai kadang terkencing-kencing. Tawa paling tulus. Entah mengapa saya mengibaratkan mereka layaknya sebuah bola lampu yang hampir putus. Nyalanya di detik-detik akhir sangatlah terang benderang. Voltasenya kejut, pijarnya bergetar hebat. Tapi kemudian pet! Gelap gulita. Hal itu cukup mengganggu saya. Tentu saja saya tidak tahu kapan saya harus bersiap mengucapkan kata perpisahan. Atau diucapkan kata perpisahan.

Suatu hari saya melihat sebuah berita di televisi tentang keadaan para lansia di Jepang. Mereka ternyata tidak jauh berbeda dengan kondisi kami di sini. Rumah-rumah mulai banyak yang tidak berpenghuni. Ditinggalkan anak-anak dan sanak famili. Merasa terasing sendirian. Bahkan akhirnya banyak yang memutuskan masuk penjara hanya untuk sekadar memiliki teman mengobrol. Karena mengobrol itu penting. Bagi manusia mengobrol bukan sekadar menyalurkan isi hati. Lebih dari itu. Berguna untuk menjaga kewarasan saat menyadari bahwa kita tak pernah menang dari rasa sendirian. Tapi tentu kita harus punya alasan kuat jika ingin masuk penjara.

Saya jadi punya ide. Saya meminta perawat untuk menghubungi keluarga saya. Si sulung menjemput saya di tengah kesibukannya menghadapi klien. Ia mengatupkan bibir rapat-rapat selama perjalanan mengantar saya ke stasiun,

“Bapak sebetulnya mau apa? Kenapa harus diantar ke stasiun? Saya jadi harus berbohong ke petugas panti bahwa Bapak sedang kurang sehat.”

Saya menatapnya sekilas. Ia tak menoleh sedikitpun ketika berbicara dengan saya. Tidak jadi soal, mungkin ia sedang banyak pikiran.

“Bapak mau beli bunga tulip merah di toko bunga dekat stasiun,” jawab saya sekenanya.

“Kan bisa saya belikan. Lagian untuk apa bunga tulip itu? Sejak kapan Bapak suka bunga?”

Saya benar-benar meremas sabuk pengaman. Mata saya mengarah ke luar jendela. Pantulannya cukup bisa membuat ia tahu bahwa saya sedang kecewa. Kalau ia mau memperhatikan.

Di stasiun, saya memintanya segera membelikan bunga tulip merah itu. Saya berjalan-jalan tidak jauh. Melihat sekeliling orang-orang yang sedang mondar-mandir menunggu jam keberangkatan kereta. Saya menemukan seorang perempuan muda cantik dengan riasan muka tebal dan mengenakan rok setinggi lutut. Saya melepas jaket, lalu berbaur di keramaian. Ketika sudah mendekatinya, saya langsung memeluknya erat-erat dari belakang.

“Maafkan saya, Nona,” bisik saya pelan di telinganya yang justru tak mampu menghadang teriakannya.

Semua orang berkumpul dan hampir saja menghakimi saya. Sebelum anak saya teriak bahwa saya adalah bapaknya.

Di pengadilan, saya menolak disebut mengidap alzheimer. Ingatan saya masih kuat dan secara sadar melakukan perbuatan itu. Saya berkata memang sengaja melakukannya karena sudah lama rindu pelukan wanita. Hakim tidak melihat jalan lain. Tuntutan jaksa juga jelas. Satu tahun dan denda sepuluh juta. Anak-anak saya kecewa. Tapi saya sudah lebih lama memendam kecewa. Dulu saya menanggung mereka, tapi kini ternyata mereka tak sanggup menanggung saya. Kalau begitu lebih baik saya ditanggung negara.

Saya tahu konsekuensi dari perbuatan itu. Jika anak saya tidak membayar uang jaminan keamanan pada bos-bos napi tentu saya dalam bahaya. Saya juga ditempatkan di sel ini karena kemurahan hati petugas penjara. Melihat saya yang sudah renta dimakan usia.

Di sel ini saya bersyukur bertemu dengan ketiga sahabat baru yang sudah saya anggap seperti anak sendiri. Walaupun mungkin mereka tidak menganggap demikian. Tanpa perlu melakukan sumpah persaudaraan. Tanpa melewati perpeloncoan atau inisiasi tertentu.

Kalom, pemuda ini dihukum karena mencuri anak kambing untuk dijual karena adiknya sudah kepalang lapar. Sedang si Supil dihukum sebab membunuh iparnya yang kerap kali kepergok memukuli kakaknya. Lalu ada Temir yang dengan polosnya menerima uang haram hasil kongkalikong bosnya dengan oknum pejabat. Semuanya nama samaran. Saya sendiri dipanggil Kakung oleh mereka.

Saya sudah menceritakan alasan sebenarnya mengapa ingin masuk penjara. Mereka semua heran, bingung, dan merasa aneh. Ada orang masuk penjara agar bisa punya teman ngobrol? Tidak masuk akal tapi entah mengapa mereka tampaknya percaya. Setiap malam saya selalu menjadi tempat mereka mencurahkan isi hati bila rindu rumah, keluarga, atau kebebasan. Apa saja bisa kami obrolkan. Kadang juga sambil makan. Temir sering memberikan jatah lauknya untuk saya. Saya sudah menolaknya tapi ia selalu memaksa sambil tersenyum. Supil mengambilkan piring stainless dan menghidangkan di depan saya. Kalom memijat. Sudah lama saya tidak diperhatikan sesering ini. Perhatian yang khusus milik saya seorang. Saya merasa jadi sosok sentimentil.

Temir masih akan dihukum hingga empat tahun lagi. Sedangkan Supil paling lama. Ia akan menghirup udara luar paling tidak tujuh tahun lagi. Untuk Kalom masanya tinggal sebentar saja menemani saya. Beberapa bulan lagi ia bebas. Kami menghabiskan waktu bersama-sama dengan terus saling menceritakan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dibicarakan. Saya kerap menasihati Supil tentang emosinya yang sering tidak terkendali. Ia paham maksud saya, tinggal praktiknya yang ia belum paham. Lain halnya Temir, saya memintanya untuk belajar menolak dan berkata tidak pada orang lain. Temir adalah pribadi yang gampang sungkan dan lebih memilih legowo. Saya pikir itu adalah kelebihan sekaligus kelemahan yang bisa dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab. Temir cuma tersenyum canggung saat mendengar itu. Tidak lupa saya juga mengajari mereka beberapa keterampilan yang mungkin berguna jika nanti keluar dari penjara. Keterampilan yang saya punya sejak muda, juga yang saya pelajari ketika masih ada di panti.

“Jaga dirimu baik-baik di luar nanti, Lom. Jangan kembali ke sini kecuali kau sangat rindu dan ingin menjenguk kami,” kata saya sambil menepuk pundaknya.

“Nama asli saya Kemal, Kung,” Kalom memberi tahu kami semua nama aslinya. Ia merasa bimbang. Tidak tahu akan seperti apa dunia menerima dirinya sekembali dari hotel prodeo.

“Tak perlu khawatir berlebihan, Lom. Jadilah orang baik saja. Bekerja keraslah dan tunjukkan kau sudah berubah. Semua untuk dirimu sendiri dan adikmu.”

“Saya nanti akan takbir keras-keras, Lom! Kau akan mendengar takbir paling keras yang belum pernah didengar sebelumnya selama di penjara ini!” Supil tertawa terbahak-bahak.

Saya juga senang, namun merasa agak sedih. Tapi kesedihan itu tak mungkin saya perlihatkan. Saya ingin Kalom keluar dengan bebas tanpa ada perasaan yang patut ditinggal di dalam sini. Saya ikut tertawa kencang sekali sampai terbatuk-batuk.

“Kung! Kakung tidak apa-apa?” Wajah Temir tampak khawatir memperhatikan saya. Saya cuma menggeleng sambil berkata akan beristirahat karena sudah mengantuk.

Keesokan harinya Temir mengguncang-guncang tubuh saya yang tak lagi merespon. Kalom berteriak panik. Ia menempelkan pipinya ke terali sel mencari sipir. Mungkin kondisi ini mengingatkannya pada tahanan yang dibopong keluar sel tengah malam tempo hari. Supil yang hanya berdiri diam di sebelah saya, tiba-tiba memekik, “Takbir! Takbir untuk Yang Maha Perkasa!”***

Faisal Fadhli adalah lulusan Fakultas Hukum yang menyukai seni, film, olahraga, dan sejarah. Dikenal dengan nama pena GoresTerka, sekarang sedang menekuni dunia kepenulisan, terutama cerpen. Sudah menulis sejak remaja dan mulai mengirimkan karya di tahun 2022. Instagram @goresterka


Editor: Anton WP

 

 

 

 




Berita Terbaru

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Redaksi

Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.
Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.