Impas
(LINKEDIN)
KUBUKA bungkus permen karet dan memasukkan isinya ke mulut. Persiapan yang cermat adalah penentu kesuksesan pekerjaan, itu sebabnya diriku datang lebih awal dari janji bertemu. Pandangan yang mencari-cari jatuh ke semak yang terselip di sisi sebuah rumah kosong. Tempat yang bagus. Aku bisa aman mengawasi.
Ia tiba. Angin menerpa begitu turun dari bus. Dengan tangan kiri menyibak rambut yang menutupi wajah, perempuan itu berjalan ke bangku panjang tanpa sandaran. Dari balik rimbun daun-daun, mataku mengikuti gerak-geriknya. Si perempuan duduk kemudian mengeluarkan sebuah karet gelang dari tas di pangkuan untuk mengikat rambut.
Lima belas menit berlalu. Yang kuamati mulai bosan. Ia mendesah. Majalah yang diambil dan dibalik-balik untuk mengisi waktu, diselipkannya kembali ke dalam tas. Dia menunggu, tapi harus kupastikan lebih dulu semua berjalan sebagaimana mestinya. Aku ambil jalan memutar menemuinya setelah meludahkan permen karet yang terasa hambar.
“Nadia?” sapaku, “Ini aku, Bian.”
Kuulurkan tangan sambil menyunggingkan senyum terbaik. Tentu saja itu bukan nama sebenarnya, nama asli tidak pernah kugunakan saat bekerja. Nadia tak menyambut uluranku. Dengan gaya dramatis dilihatnya arloji di pergelangan tangan dan berseru.
“Wow! Coba lihat jam berapa sekarang? Laki-laki macam apa yang membuat seorang wanita menunggu di kencan pertama?”
Aku bergeming, tetap tersenyum. Tak perlu ia tahu perempuan-perempuan lain sebelum ini mengalami hal yang sama dan aku tahu cara mengatasi. Aku duduk di sampingnya, sama-sama memandang berbagai kendaraan bermotor lalu lalang. Serombongan remaja berseragam sekolah dengan tas ransel di punggung muncul. Mereka melintas di depan kami sambil bercakap riuh lalu hilang di kelokan jalan.
“Sudah kubilang kan, hal ini pasti terjadi,” jawabku tenang.
Kurasakan tatapan sebal Nadia.
“Setidaknya traktir aku minum,” semburnya.
“Ada tempat khusus?”
Nadia menggeleng. Kurasakan amarahnya mereda.
“Ayo.”
Aku mendahului berjalan. Nadia membuntuti dua langkah di belakang.
***
Dua bulan berlalu dari pagi itu. Sembari memperhatikan dirinya berpakaian, hari H yang makin dekat terbayang di pikiranku. Setelah itu semua harus berakhir. Menyelesaikan tugas jauh lebih penting daripada emosi sesaat. Sayang, desahku dalam hati, Nadia cukup menyenangkan. Tanpa sadar sudut bibirku terangkat.
“Ada apa senyum-senyum?”
Suara itu menyeretku keluar dari lamunan. Nadia berdiri di dekatku yang duduk bersandar ke kepala tempat tidur dengan selimut menutup pinggang ke bawah. Tak aku jawab pertanyaan Nadia, perhatianku lebih tertuju pada pakaian yang ia kenakan.
“Mau pergi?”
“Ada tugas.”
“Di hari Minggu?”
Lawan bicaraku tersenyum. Wajahnya ditundukkan lalu mengecup pipiku.
“Sampai nanti. Sarapan kau buat sendiri.”
Kaki telanjang Nadia melangkah keluar kamar. Terdengar pintu depan dibuka dan ditutup kembali. Aku tak tahu pekerjaan wanita itu begitu pula sebaliknya. Ada kesepakatan tak terucap untuk tidak mencampuri privasi masing-masing saat memutuskan tinggal bersama. Selimut kusingkirkan dan mengguyur tubuh dengan air dingin di kamar mandi.
Kulewatkan sarapan dan mengemudikan mobil ke rumah rekan seprofesi. Obet, kalau itu memang nama aslinya, adalah pria setengah baya dengan rambut di bagian pelipis yang mulai menipis, memiliki garis wajah tegas serta pandangan menyelidik. Aku mengenalnya hampir lima tahun tapi sangat sedikit yang kutahu tentang kehidupan pribadinya. Obet tak pernah menikah. Keluarga terdekatnya adalah keponakan lelaki yang diasuh sejak kecil. Seorang pemuda yang tak tahu menahu tentang pekerjaan sang paman.
Kendaraan kuparkir di jalan masuk. Terdengar suara Obet bersenandung. Seperti biasa lelaki tersebut tidak mengunci pintu meski berulang kali kuingatkan. Obet berhenti bernyanyi melihatku masuk rumah. Ia menyeringai senang. Dibukanya kulkas kemudian melempar kaleng minuman.
“Bagus kau datang! Temani aku minum.”
“Dalam rangka apa?”
Tuan rumah mengambil kaleng minuman untuk dirinya sendiri. Obet menarik lepas tutupnya lalu melempar benda itu ke tempat sampah. Isi kaleng diteguknya sebelum menjawab pertanyaanku.
“Keponakanku hendak menikah. Nanti malam diperkenalkannya gadis itu padaku.”
Obet berdecak. Seringai senangnya belum hilang.
“Aku merasa seperti seorang ayah yang akan menghadapi pernikahan putranya.”
Mendadak senyumnya lenyap.
“Untuk apa kau datang?” tanyanya tajam.
Mulutku terkunci. Kaleng minuman yang belum terbuka di genggaman kupandang sambil melamun. Aku juga tidak tahu. Mungkin aku ingin mengatakan yang kurasakan pada seseorang. Ternyata tak semudah yang kukira.
“Kau menyukai wanita itu,” dengus Obet.
Kutatap dia.
“Dari mana kau tahu?”
“Tergambar jelas di wajahmu.”
Diteguknya lagi isi kaleng lalu melanjutkan perkataannya dengan nada muram.
“Aku kenal anak muda sepertimu. Hidupnya berakhir setelah jatuh cinta pada orang yang salah di saat yang salah.”
***
Akhirnya akal sehat menang. Bodoh sekali menghancurkan yang sudah terbangun selama ini hanya karena hal remeh. Kuputuskan fokus pada tugas yang selesai tiga hari kemudian, lebih cepat dari rencana. Pagi harinya, aku siap menghilang dari hidup Nadia.
Gemericik air terdengar dari balik pintu. Sambil memperhatikan bayangan di cermin, kukenakan dasi melengkapi setelan formal. Aku tatap sejenak pintu kamar mandi yang tertutup lalu mengambil tas kerja. Benda itu tersimpan di dalam. Kuteliti seisi kamar dengan sistematis. Setelah yakin tak tertinggal apa pun yang bisa mengungkap identitasku, diriku keluar kamar.
Nadia menghampiriku saat baru satu suapan sereal masuk mulut. Masih memakai jubah mandi serta handuk yang membungkus rambut. Tanpa sepatah kata, wanita tersebut mengambil mangkok. Dituangnya sereal ke mangkok, menuangkan susu cair lalu duduk di depanku. Selesai sarapan, aku raih tas kerja yang terletak dekat kaki. Nadia mengikuti ke pintu depan. Sereal di mangkoknya masih tersisa separuh. Kucium ringan bibirnya.
“Sampai nanti.”
“Nanti malam bertemu di tempat biasa?”
“Tentu.”
Aku masuk ke mobil dan melaju pergi. Melalui kaca spion kulihat dia untuk terakhir kali. Sesaat berselang kuhentikan mobil di jalan masuk rumah Obet. Aku menuju gudang di belakang rumah di mana lelaki itu menunggu. Dengan sigap Obet menerima tas kerja dan meletakkan di meja. Dibukanya dengan kombinasi kunci yang kusebutkan. Kusandarkan punggung ke dinding gudang. Bayangan Nadia masih menggoda diriku sampai sekarang dan aku belum tahu cara menghapusnya.
Dengusan kesal Obet membuyarkan lamunanku.
“Kau meremehkannya.”
“Ada apa?”
Laki-laki tersebut memutar tas kerja sehingga bagian yang terbuka menghadapku.
“Sialan!”
Aku lari ke mobil dan memacunya kembali ke tempat yang baru kutinggalkan. Rahangku mengatup geram. Kemudi mobil kucengkeram erat-erat. Bunyi klakson bersahutan ketika mobil yang kukemudikan berbelok di tikungan tanpa mengurangi kecepatan. Bayangan Nadia yang beberapa menit lalu tersenyum manis saat ini menyeringai mengejek. Amarah menguasai diriku. Perempuan itu! Dia menipuku dengan tubuhnya!
Kewaspadaanku tak hilang meski sedang marah. Perempuan itu, Nadia atau siapa pun nama aslinya, sudah tahu identitasku. Tak boleh ceroboh. Kutinggalkan mobil di parkiran, naik bus dan turun di halte berikutnya lalu pulang jalan kaki. Beberapa anak kecil hilir mudik dengan sepeda. Penghuni salah satu rumah sedang menyiram tanaman di halaman. Dua ekor kucing liar mengorek tempat sampah, mencari sisa-sisa makanan. Aku raih pistol. Dengan tangan menempel di sisi tubuh untuk menghalangi pandangan, aku berjalan ke rumah.
Koran yang diantar tadi pagi tergeletak di undakan, sama seperti saat aku pergi. Gagang pintu depan kutekan lalu kudorong perlahan. Pintu terbuka. Jantungku berdebar. Siapa pun yang ada di dalam pasti sudah siap menyambutku. Genggaman di pistol kupererat sambil berdoa agar tak perlu menggunakannya. Bunyi letusan akan memancing polisi datang.
Aku melangkah masuk dengan hati-hati. Pistol teracung, mata menatap tajam setiap sudut. Mangkuk sarapan Nadia masih terletak di meja makan, tersisa separuh sereal di dalam. Rupanya wanita itu tak menyentuhnya lagi setelah aku pergi. Tetap waspada, aku menuju kamar tidur. Tak ada tanda keberadaan Nadia. Semua barang miliknya lenyap. Sebaris kalimat tertera di kertas yang dilekatkan ke cermin.
Kita impas. Jangan menipu seorang penipu.***
Daisy Rahmi lahir di Manado dan tinggal di Jakarta. Cerpen-cerpennya dimuat di beberapa media. Buku kumpulan cerpen tunggalnya adalah Kepak Sayap Merpati (2022) dan Dunia Alika (2025).
Editor: Anton WP
Redaksi
Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.



















