PERCA

Zapatista

Budaya Sabtu, 25 April 2020 - 00:19 WIB | 636 klik
Zapatista

(MEXICONEWSDAILY.COM)

 

“Adalah kata-kata, yang memberi bentuk pada sesuatu yang masuk dan keluar dari diri kita. Adalah kata-kata, yang menjadi jembatan untuk menyeberang ke tempat lain. Ketika kita diam, kita akan tetap sendirian. Berbicara, kita mengobati rasa sakit. Berbicara, kita membangun persahabatan dengan yang lain. Para penguasa menggunakan kata-kata untuk menata imperium diam. Kita menggunakan kata-kata untuk memperbaharui diri kita. Inilah senjata kita Saudara-saudaraku...”

Baca Juga : Dari Balik Terali

ITULAH yang dikatakan Subcomdante Insurgente Marcos. Lelaki bertopeng penuh kharisma, selayaknya dongeng Zorro, yang sekian tahun menjadi “musuh” pemerintah Meksiko, tetapi digilai kaum perempuan, dicintai kaum petani, dan diidolai anak-anak. Dia pemimpin dan sekaligus juru bicara Ejercito Zapatista de Liberacion Nacional (EZLN), nama Meksiko dari Tentara Pembebasan Nasional Zapatista, yang berjuang mengangkat senjata dalam sebuah gerakan perlawanan petani adat di Chiapas, sebuah wilayah di sebelah tenggara Meksiko, yang dimulai pada malam Tahun Baru 1994.

Inilah gerakan petani-adat yang “aneh”, yang merujuk dan mengidolakan Emiliano Zapata, pencetus gerakan reformasi agraria di Meksiko tahun 1911, yang juga menginspirasi hampir semua gerakan petani-rakyat-adat di Meksiko dan Amerika Bagian Tengah hingga ke Selatan. Sebuah gerakan perlawanan sosial-kultural yang tidak memiliki tujuan merebut kekuasaan atau menjatuhkan pemerintahan sah. Mereka hanya ingin menjelaskan tentang pentingnya kearifan lokal (local genius), dan menjelaskan bagaimana “berdemokrasi yang baik”. Mereka menolak kapitalisme absolut yang mulai diberlakukan di Amerika Utara: karena akan semakin memiskinkan kaum petani dan masyarakat adat. Mereka bergerak dan menguasai balai kota San Cristobal de las Casas dan enam kota lain di Chiapas, meski akhirnya bisa dipadamkan oleh pemerintah Meksiko.

Baca Juga : Impas

Zapatista bukan sebuah gerakan oportunis. Ini yang aneh dan “lucu”. Dalam sejarah gerakan sosial yang memanjang di Benua Amerika dan di mana pun di sudut dunia, belum pernah ditemui sebuah gerakan gerilyawan serupa ini. Selain memaklumatkan diri bahwa mereka “tak berminat pada kekuasaan”, Zapatista juga tak memaksakan program dan keinginan mereka, tetapi ingin “menciptakan sebuah ruang demokrasi” dan mencari pemecahan pandangan politik yang berbeda-beda. Mereka menangkap dan menyandera para pemimpin, tetapi bukan untuk dilukai dan disakiti, melainkan diajak diskusi dan kemudian dilepaskan dengan utuh tanpa cacat apa pun.

Zapatista bukan tipe kelompok yang kemaruk kekuasaan seperti lazimnya gerakan lainnya yang mengatasnamakan rakyat, kemudian menyerukan perlawanan, mengambil-alih kekuasaan dan menjadi penguasa: setelah itu jadi diktaktor baru seperti kebanyakan gerakan sosial di Amerika Latin dan Afrika. Juga di Asia. Mereka tidak memprovokasi masyarakat --kaum adat dan petani— untuk bangkit melawan, tetapi ingin menjelaskan kepada banyak orang, bahwa kita harus banyak belajar dari kaum adat dan petani itu tentang kearifan lokal. Bahwa kekuasaan tidak boleh melupakan kearifan lokal karena secara turun-temurun mereka hidup belajar dari alam, dan mereka sudah teruji sampai berpuluh bahkan beratus keturunan. Mereka tidak menjadikan minoritas-tertindas sebagai kekuatan untuk dimanfaatkan sebagai alat perlawanan, tetapi menjadikan minoritas tersebut sebagai sebuah contoh, bahwa dunia (kekuasaan) harus adil dengan minoritas apa pun: adat, agama, petani, orang miskin dan yang lainnya.

Di sinilah peran seorang Marcos sangat dominan dalam menyampaikan pandangan-pandangan politik itu. Ketika dia mendaki pegunungan Chiapas tahun 1983 untuk bergabung dengan gerakan ini --dengan melepaskan dirinya sebagai orang kaya dan terpelajar di kota-- dia menanggalkan semua paham revolusioner klasik dari Lenin, Stalin, Marx, atau tokoh kiri lainnya. Sosialisme-komunisme, menurutnya, tetap sama dengan ide kapitalisme klasik: menciptakan kediktaktoran baru, kaptalisme global, dan tak menghargai hak-hak masyarakat minoritas yang dianggap penghambat kemajuan. Yang ada dalam ranselnya ketika itu malah novel dan buku sastra milik Shakespeare, Gabriel Garcia Marquez, Vargas Llosa, Julio Cortazar, Umberto Eco dan yang lainnya.

Marcos dan Zapatista menggunakan kata (sastra) sebagai alat perlawanan baru, terutama untuk pencitraan diri lewat media massa. Marcos berbicara lewat surat yang di dalamnya adalah puisi, telaah, anekdot, dan cerita-cerita lucu-satir dengan menciptakan seorang tokoh pencerita (yang paling terkenal adalah Don Durito dari Rimba Lacandon), yang dikirimnya ke koran-koran besar maupun kecil Meksiko dan ternyata bisa melipatgandakan oplah mereka. 

Tulisan Marcos menyihir semua pembacanya, dan selalu ditunggu oleh mereka. Kekuatan prosa maupun liris Marcos diakui oleh kalangan sastrawan Nobel macam Octavio Paz, Regis Debray, Garcia Marquez sendiri, hingga Jose Samarago. Mereka menganggap, pencapaian Nobel mereka tak ada artinya dibanding cita-cita Marcos dan Zapatista-nya.

Zapatista dan Marcos memang akhirnya harus dihentikan oleh kekuasaan yang sah. Tapi gerakan ini telah memenangkan hati rakyat Meksiko dan para pembacanya di dunia lain. Ketulusan mereka membela kaum tertindas tanpa pamrih kekuasaan, adalah cermin yang tak didapatkan dalam gerakan gerilyawan di manapun. Mereka menjunjung kearifan lokal (minoritas adat-petani) sebagai sebuah kekuatan besar, sebuah kelompok minoritas yang --menurut Peter L Berger-- menjadi korban kaum intelektual yang berkoloborasi dengan kekuasaan. Mereka yang “membangun piramida” (kekuasaan), tetapi akhirnya menjadi tumbal sebagai “biaya pembangunan” atau “harga revolusi”. Zapatista dan Marcos berusaha membalikkan itu.

Kearifan lokal: di tanah  ini, apakah mereka diperhitungkan?***

Hary B Koriun




Berita Terbaru

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Redaksi

Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.
Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.