Puisi-Puisi Redovan Jamil
seribu delapan ratus sembilan dua *)
selepas mengingat hindia belanda
sakit ditubuhku semakin melilit
seumpama bergelayut mumbang kelapa yang jatuh sebelum remang petang
membangunkan mambang dari seberang
suara-suara itu memepat waktu yang membatu di tungku goedang ransum ciptaan belanda
yang hangat menyengat dan bau-bau mayat kelaparan ditanam tanpa nama
di sebuah bukit di kedalaman lobang tambang yang terlarang
bila aroma itu meracau, aku ingin memanggilmu manusia rantai yang terbantai
dalam sejarah terberai, tergadai dan tak mau ungkai
timbun saja masa lalu yang berkarat
seperti rel kereta menjalar sepanjang ceruk sungai
di solok yang ditambat usia, katamu
kala angin menjuntai di kaki sungai ombilin
aku hendak bersembunyi saja di kedalaman lobang mbah soero
agar terselamatkan kelat lidahku yang dilipat umpat
dan selonsong senapan dari eropa
apa yang membuat percaya dalam dada kita
padahal tidak jauh dari sini, bongkahan emas hitam terus digerus tanpa putus
seolah-olah waktu tidak mengantuk di jam tangan
yang dibawa berjalan menyisir amis kota
umpeti tidak luput dituntut selalu ditagih tanpa permisi
di tanah sendiri tempat ia meminta
di negeri sendiri tidak punya tanah dan harta
bertahun-tahun rantai bersenggama dengan kaki
membangunkan gergasi
melawat kawat dari jauh mengabarkan pulang yang tak jadi
sejak abad delapan belas, kopi tersangkut masai
tak pernah lagi kayu manis mendidih dikuah rendang
gelak tertahan di atas pagu pada jendela yang palangnya patah dua
sejarah masa lalu bersamaku, kemana jalan dituju di sana bermula sakit yang membunuh
akhirnya, di pelabuhan emmahaven aku terpaut tali tongkang
yang ingin berlayar melewati pulau-pulau berkaca
walau hendak hati tetap mengayuh biduk menuju hilir di sungai lunto
tempat masa kecil yang pilu
tempat air liur terserak di lantai
di bawah selangkangan yang basah
selepas darah perawanku disumbat dengan janji-janji agar bapak tidak lagi dirantai
beratus-ratus tahun musim dikibas angin pincang
beratus-ratus tahun hatiku terpuruk terbatuk-batuk menunggu bapak dalam kantuk
bila semuanya tidak pulang ke rumah gadang
aku akan merindukan gendang ditabuh
keciprak air di liang sungai ombilin yang mengantarkan ke tampuk sejarah masa lalu
yang telah lama sansai melekat di tubuhku.
2020
*) Puisi ini terpilih sebagai Peringkat 3 Lomba Menulis Puisi Sejarah Lokal yang diadakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat tahun 2020.
negeriku suwarnadwipa *)
:jalur rempah
telah aku kembangkan ini dagang
dagang yang menarik orang jauh untuk bertandang
sekarung lada pilihan dari perut rimbaku yang perawan menunggu dipinang orang datang
ada juga setongkang gambir dari hulu riau
pelabuhan gemilang secawan mata yang cerlang
dari barus ke lamuri dari bintan sampai banda
sepanjang pandang seujung tanjung negeriku suwarnadwipa
kaya dengan rempah hingga gunung yang menjulang tempat berkebun emas
membuat kelat lidahku tak lagi mencecap rasa pahit moyangku yang terbuang
namun, kulitku tetap kulit orang tepian yang gelap legam
tapi bapakku orang ladang yang punggungnya sekeras gunung
yang kakinya sekuat cakar harimau sumatera
yang matanya setajam elang yang senang melayang di udara
pandai mengintai mangsa yang patut diterkam
yang hatinya selembut kain sutra dari makassar
tapi hidup begini adanya
dari musim tanam hingga musim panen
dari pasang ke surut
dari tongkang kosong hingga tongkang terisi barang
dibawa ke negeri yang jauh tanpa kami tahu berapa harganya
jangan lupa, tuan!
kami masih bisa membakar kemenyan
mantra moyang masih ada taji dan teruji
gelombang masih gelombang yang dahulu
air laut masih asin
aromatica masih bisa ditanam
air keruh bisa disuling hingga jernih
tanah kami tanah subur
apa yang dikubur tumbuh subur
maka jangan abaikan kami, tuan
tulang kita sama putihnya
meski kulit beda raginya
serta nasib beda tampuknya
tapi tak mengapa hidup memang harus dihidupkan
kemenyan harus terus dibakar beserta mantra yang kidmat melangit
dan akhirnya akan aku pulangkan ini hidup kepada ruasnya
agar sansai tidaklah berkepanjangan
setakat ke anak cucu kami
puah,
puah,
puah!
2021
*) Puisi ini terpilih sebagai Pilihan 1 Sayembara Menulis “Jalur Rempag & Sejarah Kemaritiman Dunia” yang diselenggarakan Wangsamudra BPCB Jambi tahun 2021.
Redovan Jamil, suka menulis puisi, cerpen, esai, dan opini. Telah menerbitkan buku puisi Abun-abun yang Abrak (2018) dan Dari Jauh ke Pasar Jongkok (2019). Pernah memenangkan beberapa lomba menulis. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa aktif Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Riau. Bisa dihubungi lewat email redovanjamil@gmail.com, IG @redovan_jamil dan Facebook atas nama Redovan Jamil.
Redaksi
Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.



















