CERBUNG OLEH MARTIN SADEWA

Kuala Lumpur Love Story (1)

Budaya Jumat, 03 Januari 2025 - 15:11 WIB | 303 klik
Kuala Lumpur Love Story (1)

(ISTIMEWA)

KETIKA pesawat yang membawanya dari Jakarta landing di Bandara Kuala Lumpur Internasional II, matahari sudah hampir tenggelam. Terlihat warna oren kemerah-merahan di langit sebelah barat. Warna yang sama ketika beberapa waktu lalu dia meninggalkan bandara ini untuk kembali ke tanah air. Dan kini, setelah sekian lama, dia kembali datang ke kota ini, untuk sebuah pekerjaan.

Setelah menyelesaikan pemeriksaan rutin di imigrasi yang memakan waktu nyaris satu jam karena antrian panjang, dia keluar dari bandara menuju counter sebuah moda angkutan online tidak jauh dari pintu keluar. Setelah memesan kepada salah seorang petugasnya, dia diantar menuju pintu keluar. Petugas lelaki yang nampaknya umurnya tak jauh beda dengannya itu menyuruh dia menunggu.

Baca Juga : Dari Balik Terali

Sile tunggu di sini, Tuan. Nanti driver-nya akan menghubungi langsung,” ujarnya sambil tersenyum.

“Terima kasih,” katanya, sambil membalas senyumannya.

Dia tak sendirian di situ. Di beberapa bangku panjang, banyak orang yang juga sedang menunggu. Mungkin mereka juga sedang menunggu moda online seperti dirinya, menunggu dijemput oleh saudaranya, sopir perusahaannya, atau oleh travel wisata. Di sebelah kanan terlihat rombongan berjumlah lebih 20 orang. Mereka nampaknya serombongan turis dari Jakarta yang tadi satu pesawat dengannya. Tak lama kemudian, sebuah bus pariwisata datang dan mereka naik satu per satu.

Di sebelah kiri, terlihat beberapa orang yang beberapa di antaranya sibuk menelpon dengan berbagai bahasa. Ada yang menggunakan bahasa Inggris, Melayu, atau Mandarin. Juga ada yang menggunakan bahasa lain yang tak dia pahami bahasa apa. Kalimatnya terasa asing di telinganya. Satu per satu kemudian mereka juga dijemput oleh beberapa kendaraan. Namun, setelah mereka pergi, dari dalam muncul lagi banyak orang yang sepertinya sama dengan dirinya dan beberapa orang tadi: menunggu angkutan.

Smartphone-nya bergetar. Sebuah nomor asing terlihat di layar. Mungkin ini sopir moda online. Benar. Dia mengatakan sekian menit lagi akan sampai karena terjebak macet di pintu masuk tadi. Dijelaskan warna mobil dan nomor polisinya. Dia mengiyakan. Sopir itu mengucapkan terima kasih, dan menutup percakapan.

Kini suasana sudah gelap. Malam sudah datang. Matahari sudah sejak tadi menghilang. Namun lampu-lampu ber-watt tinggi terlihat membuat suasana tetap terang. Dinaikkannya resleting jaket sport-nya. Tak terasa angin dari luar bandara berhembus. Orang lalu-lalang, keluar-masuk, naik dan turun kendaraan. Tak pernah berhenti.

Kembali ke kota ini, ada yang terasa ngilu di dadanya.  Banyak hal yang terjadi sekian waktu lalu. Banyak hal… Yang membuatnya tak pernah bisa melupakan kota ini.

Sebuah city car Neo keluaran pabrikan Proton berhenti di depannya. Pengemudinya turun dan bertanya  apakah dia orang yang ditelepon tadi. Sopir itu menyebut namanya. Setelah dia yakin, mereka kemudian naik ke mobil itu. Dia duduk di bangku belakang, tidak di depan dekat si sopir.

“Nama saye Hussein Mohammad Noor. Anda bisa memanggil saya Hussein saja,” katanya membuka pembicaraan ketika mobil sudah berada dalam tol menuju Kuala Lumpur.

“Baik, Ncik…” katanya pendek.

“Ada saudara di KL?” tanyanya lagi.

“Saya ada pekerjaan di sini…” jawabnya.

Setelah itu terjadi beberapa kali pembicaraan. Dia kemudian mengatakan kepada sang sopir ingin tidur karena lelah perjalanan dari Jakarta. Si sopir menghidupkan radio. Lagu-lagu popular Indonesia banyak diputar di radio-radio  Kuala Lumpur. Dia tak tahu persis nama radio itu. Awalnya dia mendengar lagu Isyana Sarasvati, “Tetap dalam Jiwa”. Lagu yang sangat populer di Jakarta. Namun setelah itu dia tak ingat apa-apa lagi.

Dia  terbangun ketika Ncik Hussein mangatakan sudah sampai tujuan. “Abang tidurnya nyenyak betol…” katanya sambil tersenyum.

“Semalam saya kurang tidur, ada kerjaan yang harus diselesaikan sebelum saya ke sini,” jawabnya.

Ncik Hussein turun dan membuka bagasi belakang. Dia yang mengeluarkan dan menurunkan kopernya. Setelah membayar beberapa ringgit, dia masuk ke sebuah hotel yang sudah dipesan dari Jakarta. Sebuah hotel murah untuk ukuran di Bukit Bintang ini. Di pusat kota yang tak pernah tidur ini, berjejer hotel-hotel berbagai tipe, dari melati sampai bintang lima. Semua ada di sini. Dari rumah makan India-Pakistan kaki lima hingga restoran mahal ada. Mal dan gedung-gedung tinggi juga terlihat di sana-sini.

Tak jauh dari sini, di sebelah, ada pusat kuliner. Di Jl Alor, makanan apa pun yang kita cari ada. Tinggal menyeberang lewat Jl Thong Sin. Dari masakan ala Thailand, Jepang, Korea, dan yang lainnya, berjejer di kanan-kiri jalan. Jika punya uang, kau tak akan kelaparan di sini. Semua bisa dibeli, tinggal memilih.

Setelah mengurus ceck in, dia masuk ke kamar di lantai lima. Dia istirahat sejenak. Merebahkan punggung sebentar. Setelah itu dia mempersiapkan berkas. Besok pagi dia harus melapor ke Kedutaan Besar Indonesia di Jl Tun Razak. Seorang temannya di sana mengatakan semua yang  dia butuhkan untuk urasan di sini sudah dipersiapkannya. Dulu dia sering bertemu dengan pegawai itu di Kedutaan Besar RI. Segala urusannya, temannya itu yang menyelesaikan. Maklumlah, mereka masih terikat primordial. Sama-sama orang Indonesia. Merasa menjadi saudara ketika berada di tanah rantau.

Setelah itu dia  turun dan mencari makan. Cukup berjalan kaki tak sampai 200 meter ke arah Sungai Wang. Sebelum sampai ke mal itu, ada rumah makan Pakistan yang sangat ramai. Di pojok, berseberangan dengan Sungai Wang. Dia memesan mie goreng Maggie dan teh tarik dingin. Setelah itu dia duduk di pinggir jalan, di depan Stasiun Monorail Bukit Bintang. Sebuah kelompok musik jalanan sedang menyanyikan sebuah lagu lama, “Sejati”. Itu lagu hits milik band Malaysia, Wings. Lagu ini sangat populer dan digemari banyak orang di Indonesia

Di sepanjang jalan ini banyak seniman. Pemusik jalanan banyak “konser” di tempat-tempat yang strategis. Mereka bisa bernyanyi lagu apa saja. Dari lagu Barat, rock-Melayu, hingga lagu-lagu milik musisi Indonesia. Termasuk lagu dangdut yang sedang populer.  Sepertinya, lagu-lagu Indonesia sangat digemari di sini.

Para seniman lukis juga terlihat melakukan aktivitasnya. Mereka bisa menggambar wajah, pemandangan, atau sekadar siluet. Di beberapa simpang atau depan pertokoan, terlihat beberapa sedang antri untuk dilukis, atau sedang menunggu lukisannya jadi.

Orang-orang dari berbagai etnis dan warna kulit lalu-lalang di sini. Mereka sepertinya datang ke sini sengaja ingin menikmati malam panjang di Bukit Bintang. Mereka ada yang berpasangan, juga ada yang sendirian seperti dirinya. (Bersambung)




Berita Terbaru

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Redaksi

Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.
Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.