CERPEN ANTON WP

Menziarahi Selasih

Cerpen Minggu, 14 Juli 2024 - 23:47 WIB | 339 klik
Menziarahi Selasih

 

AGYA hitam itu menepi di depan taman makam pahlawan. 

“Ini taman makam pahlawannya, Bu,” kata si sopir taksi online pada penumpangnya yang duduk di jok belakang.

Perempuan berusia paruh baya itu memandang ke luar dari balik jendela. Taman makam pahlawan itu tampak sepi, tak terlihat seorang pun dan pagarnya pun tertutup rapat.

Baca Juga : Dari Balik Terali

“Tunggu sebentar ya, Nak.”

Si sopir taksi online yang terlihat baru berusia belasan itu hanya mengangguk dan menatap penumpang pertamanya di pagi ini turun dari pintu sebelah kiri.

Beberapa saat dilihatnya perempuan berjilbab biru pupus dan berbusana terusan berwarna senada itu berdiri di atas trotoar tepat di depan papan nama taman makam pahlawan dalam sikap seperti sedang berdoa atau mengheningkan cipta.

Tak sampai tiga menit kemudian perempuan itu kembali ke dalam mobil. “Terima kasih, Nak. Sekarang kita langsung ke bandara,” katanya.

Agya hitam meluncur kembali di sepanjang jalan Sudirman yang aspalnya masih basah oleh hujan yang turun subuh tadi.

“Maaf, Bu, kalau boleh tahu, tadi Ibu minta berhenti sebentar di taman makam pahlawan itu sebenarnya untuk apa?” suara si supir taksi online memecah keheningan di dalam kabin mobil.

“Oh, itu…,” jawab yang ditanya. Namun, tak terdengar lagi penjelasannya lebih lanjut. 

Si sopir taksi online hanya terdiam dan tak berani menanyakannya lagi. Mungkin itu suatu hal yang bersifat pribadi dan tak boleh diketahui orang lain, pikirnya. 

“Anak tahu penulis bernama Selasih?” tiba-tiba terdengar tanya perempuan itu.

“Maaf, Bu? Penulis? Siapa namanya tadi?”

“Selasih.”

“Selasih? Seperti nama biji kecil hitam yang sering dibuat campuran minuman itu, Bu?”

“Ya, benar, Nak. Memang itu nama pena yang diambil dari nama tanaman bunga yang menghasilkan biji buat campuran minuman itu. Nama sebenarnya Sariamin Ismail.”   

"Nama penulis jadul ya, Bu?”

“Iya, penulis zaman dulu. termasuk dalam angkatan Pujangga Baru. Selasih bisa disebut sebagai novelis perempuan pertama di negeri ini.” 

“Wah, saya yang lahir dan besar di kota ini baru tahu ada penulis yang menjadi novelis pertama di Indonesia dimakamkan di kota ini. Tapi memang sih, seumur hidup saya belum pernah sekalipun masuk ke taman makam pahlawan tadi.”

“Dari yang saya baca, Selasih memang dimakamkan di kota ini. Namun, saya pun tak tahu pasti di mana makamnya. Dua hari saya dinas luar ke Padang dan pulangnya sengaja saya mampir dulu untuk berziarah. Sayangnya saya tak punya banyak waktu untuk mencari informasi karena hanya menginap semalam di sini. Orang-orang yang saya temui di hotel tak seorang pun yang tahu. Bahkan nama Selasih pun asing bagi mereka.” 

“Oh, jadi ibu hanya menduga-duga saja Almarhumah dimakamkan di taman makam pahlawan?”

“Ya, begitulah, Nak. Karena selama hidupnya Selasih ikut berjuang dalam merebut kemerdekaan bangsa ini, terutama melalui tulisan-tulisannya yang membuatnya dicari-cari pemerintah kolonial hingga terpaksa memakai banyak nama pena, dan pernah pula menjadi anggota DPRD di awal-awal kemerdekaan, saya anggap saja Almarhumah dimakamkan di taman makam pahlawan.”   

“Pasti Almarhumah sangat istimewa bagi Ibu, karena Ibu sampai sengaja mampir dulu ke kota ini dengan maksud berziarah.”

“Ya, benar sekali. Novelnya yang berjudul Kalau Tak Untung membuat saya yang berasal dari keluarga tak mampu bertekad untuk terus melanjutkan pendidikan dan menjadi guru seperti tokoh utama dalam kisah itu. Nah, sekarang saya sudah menjadi seorang dosen. Tapi tentu saja saya tak ingin mengalami kisah cinta tragis seperti yang dialami si tokoh utama.” 

“Wah, kisah cinta yang tragis. Bagaimana ceritanya, Bu?”

“Panjang kisahnya. Anak cari dan baca sendiri saja novelnya nanti.”

“Ya, nanti coba saya cari dan baca novelnya, Bu. Siapa tahu bisa menginspirasi saya untuk melanjutkan kuliah.”
Tak lama kemudian Agya hitam itu mulai memasuki kawasan bandara dan berhenti di tempat menurunkan penumpang di terminal keberangkatan.

“Sudah semua barang bawaannya, Bu?” tanya si supir taksi online. 

“Sudah, hanya ini bawaan saya,” sahut perempuan itu sambil memegang gagang tas kopernya. 

Setelah melapor dan mengurus bagasi, perempuan itu menunggu di ruang tunggu keberangkatan. Dia mengeluarkan ponsel dan memeriksa pesan masuk dan akun-akun media sosialnya. Saat sedang memeriksa siapa saja yang melihat status whatsapp-nya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. 

Si perempuan tersenyum saat menatap layar ponsel dan membaca nama orang yang meneleponnya. Dia segera menggeser tombol menerima panggilan.

“Aku baru lihat statusmu. Kenapa tak kabar-kabari dulu kalau mau ke Pekanbaru? Sekarang ada di mana? Apa? Sudah di bandara? Sejam lagi naik pesawat? Ah, tak terkejar lagi. Aku baru keluar dari Siak, mau ke Pekanbaru.”

Ya, tak apa-apa. Memang belum beruntung kita bisa bertemu. Seperti dulu juga. Mungkin lain kali kalau ada umur dan kesempatan, jawab perempuan itu.***

Anton Widyanto Putra, penikmat sastra dan dunia literasi. Penulis bermukim di Pekanbaru.




Berita Terbaru

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Redaksi

Kurator/Redaktur Cerpen: Anton WP dan Redovan Jamil.
Sekretaris Redaksi dan Keuangan: Redovan Jamil
Redaksi RiauGlobe.id menerima tulisan berupa cerpen, maksimal 1.500 kata.
Silakan kirim ke email: riaumedia.globe@gmail.com.
Cerpen yang dimuat diberi honor.